Make your own free website on Tripod.com
Journal of Pharmaceutics

Majalah Farmaseutik Volume 3, (1999), Number: 1
 

Article 1. (number of pages: 14; original language: Indonesian)

PENGARUH FORMULA DAN METODE PEMBUATAN GRANUL PEMBAWA TERHADAP KECEPATAN PELARUTAN TABLET DEKSAMETASON YANG DIBUAT DENGAN CARA CAMPURAN INTERAKTIF

INFLUENCE OF FORMULATION AND PREPARATION METHOD OF THE GRANUL AS VEHICLE TO THE DEXAMETHASON TABLET DISSOLUTION RATE PRODUCED BY INTERACTIVE MIXING

Achmad Fudholi
Fakultas Farmasi UGM

ABSTRAK

Granul pembawa adalah granul dengan ukuran tertentu yang dapat mengikat partikel bahan aktif  yang mempunyai ukuran jauh lebih kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh formula dan metode pembuatan granul pembawa sebagai komponen campuran interaktif terhadap kecepatan pelarutan tablet deksametason. Caranya adalah dengan membuat lima macam granul dengan ukuran 16/20 mesh, dengan menggunakan metode basah dan kering.
Hasil karakteristik tablet menunjukkan bahwa akibat penambahan tween pada granul pembawa (GP III dan GP IV) dapat menurunkan harga kerapuhan tablet dan mempercepat waktu hancurnya. Akibatnya tablet yang diperoleh dari granul-granul tersebut mempunyai kecepatan pelarutan yang lebih besar dibanding dengan tablet lain. Harga tetapan kecepatan pelarutan k yang diperoleh adalah tablet  formula I (dari GP I) adalah 0,1662 /menit, formula II  (dari GP II)  =  0,1227/menit,  formula III  (dari GP III)  =  0,2467/menit,  formula IV (dari GP IV)  =  0,2968  dan  formula V (dari GP V) = 0,1826.

Kata kunci: campuran interaktif, laju disolusi

ABSTRACT

        Interactive mixture is realize by an interaction between particles, i.e interaction of fine partcles with the surface of larger particles as the granule carrier. The objective of this study is to know the influence of the formulas and methodes of fabrication the different granules carrier on the rate of dissolution  of dexamethason as active substance. Five granules carrier were made by different formulas and methodes of fabrication. GP I , and GP II made by wet granulation with different binder concentrations, i.e 10% of starch paste for GP I and 15% of starch paste for GP II.
The granules carrier GP III and GP IV made by the similary methodes  with addition of 0,5% of tween 80, and  the GP V was made by dry methode.   All granules applied in this study were collected from 16/20 mesh sieves. The interactive mixtures were made by using micronized dexamethason as drug model with granule carrier GP. The interactive mixtures were compressed then in tabletting machine . Evaluation of tablet caracteristics include of weight control, friability, hardness, disentegration time and dissolution test.
The result showed that the flowability of  GP V was the best one than the other granules. The angle of repose of this granule was  33,4o and the flow time was 2,4 seconds. The addition of 0,5% tween 80 to GP I and GP II decreased the friability of tablets obtained (tablets formule III and IV) and made a disintegration time faster.The dissolution costants k of tablets formule I, II, III, IV and V consecutively were 0,1662  ;  0,1227  ;  0,2467  ; 0,2968  and  0,1826 per minutes.

Key-words: interactive mixture, dissolution rate

--------------------------------------------------------------------
 

Article 2. (number of pages: 5; original language: Indonesian)
 

DAYA HAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI HASIL DISOLUSI DISPERSI PADAT AMPISILIN dan AMOKSISILIN - POLIETILENGLIKOL  (PEG) 4000

THE BACTERICIDE EFFECTS OF THE SOLUTION OBTAINED FROM THE DISSOLUTION PROCESS OF AMPICILLIN AND AMOXYCILLIN - POLYETHYLENE GLYCOL (PEG) 4000 SOLID DISPERSION

Riswaka Sudjaswadi
Laboratorium Farmasi Fisika, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada

ABSTRAK

 Uji daya hambat campuran equimolar ampisilin dan amoksisilin - polietilen glikol (PEG)  4000 terhadap Staphylococcus aureus serta terhadap Escherichia coli telah dilakukan, untuk mendapatkan data tentang proses interaksi membran - PEG.
 Uji dilakukan menurut metode difusi, menggunakan larutan hasil uji disolusi menit ke 60, terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.
 Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa PEG 4000 mampu menaikkan daya hambat obat-obat yang bersangkutan terhadap bakteri-bakteri uji. Penelitian lanjutan perlu dilakukan dengan campuran PEG dan surfaktan dalam perbandingan yang lebih luas.

Kata kunci: disolusi, dispersi padat, ampisilin, amoksisilin
 
ABSTRACT

 The bactericide effects of ampicillin and amoxycillin - polyethylene glycol (PEG) 4000 equimolar dispersion had been carried out, in order to collect the data of membrane - PEG interaction processes.
 The bactericide effects were tested by using the diffusion methods, used the solution taken at the 60th minutes of the dissolution processes, against Staphylococcus aureus and Echerichia coli
 The results showed that PEG 4000 enhanced the bactericide effect of the drugs to the tested bacteria.

Key-words: dissolution, solid dispersion, ampicillin, amoxycillin

--------------------------------------------------------------
 

Article 3. (number of pages: 11; original language: Indonesian)

PENGARUH PENAMBAHAN CERA FLAVA PADA BASIS OLEUM CACAO TERHADAP SIFAT KIMIA FISIKA SUPPOSITORIA NATRIUM SALISILAT

THE EFFECT OF CERA FLAVA ON THE PHYSICAL-CHEMICAL PROPERTIES OF NATRIUM SALICYLATE SUPPOSITORIES WITH OLEUM CACAO AS A BASE

Mimiek Murrukmihadi
Laboratorium Kimia Fisika dan Biofarmasetika, Bagian Farmasetika, Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada

ABSTRAK

 Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh penambahan cera flava pada basis (oleum cacao) terhadap sifat kimia fisika suppositoria natrium salisilat yaitu titik lebur, viskositas, koefisien partisi, dan desagregasinya.
 Penelitian dilakukan dengan cara penambahan cera flava 0, 2, 4, 6, 8, 10 dan 12% pada basis oleum cacao dalam Suppositoria Natrium Salisilat (5% b/v). Massa suppositoria diteliti titik lebur dan viskositasnya. Sedangkan pada sediaan suppositoria diteliti koefisien partisi dan desagregasinya.
 Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan naiknya cera flava pada basis oleum cacao akan meningkatkan titik lebur dan viskositas massa suppositoria. Pada sediaan suppositoria, penambahan cera flava sampai 8% menaikkan desagregasi, sedangkan penambahan lebih dari 8% menurunkan desagregasi. Sementara penambahan cera flava yang semakin tinggi, akan menurunkan koefisien partisinya.

Kata kunci : suppositoria, natrium salisilat, cera flava, oleum cacao

ABSTRACT

 The effect of cera flava addition on the physical-clinical properties of Natrium Salicylate Suppositories with oleum cacao as a base has been investigated in order to characterize its melting point, viscosity, partition coefficients and desagregation.
 The study was carried out by addition cera flava 0, 2, 4, 6, 8, 10 and 12% to each group of oleum cacao base in Natrium Salicylate (5% b/v) suppositories. The suppository mass was tested for melting point and viscosity. While the partition coefficients and desagregation was tested to the suppository dosage form.
 The results showed that the increase cera flava will increase the melting point and viscosity of suppository mass. On the suppository dosage form, increasing cera flava up to 8% increased desagregation, but addition cera flava up to 8% increased desagregation. While the increase cera flava will decrease the partition coefficients.

Key words : suppository, sodium salicylate, cera flava, oleum cacao

----------------------------------------------------------------
 

Article 4. (number of pages: 10; original language: Indonesian)

PENGARUH PROPILEN GLIKOL SEBAGAI ENHANCER TERHADAP PERMEABILITAS TEOFILIN MELALUI MEMBRAN LIPID BUATAN

THE INFLUENCE OF PROPYLENE GLYCOL AS ENHANCER IN PERMEABILITY OF THEOPHYLLINE ACROSS ARTIFICIAL LIPOID MEMBRANE

Akhmad Kharis Nugroho, Suwaldi Martodihardjo dan Tedjo Yuwono
Bagian Farmasetika Fakultas Farmasi UGM

ABSTRAK

 Penggunaan teofilin secara transdermal sebagai antiasma mempunyai prospek cerah mengingat kepraktisannya dan keteraturan pelepasan obatnya. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian untuk mengkaji kemungkinan memformulasikan teofilin sebagai sediaan transdermal. Pada penelitian ini ditentukan permeabilitas teofilin melalui membran Millipore yang diimpregnasi isopropil miristat (IPM). Alat yang digunakan berupa sel difusi model Golberg dan Higuchi yang dimodifikasi. Larutan dapar fosfat pH 7,4 dengan suhu 370C digunakan medium. Jumlah teofilin yang digunakan pada kompartemen donor adalah lebih kurang 500,0 mg dalam 200,0 ml medium. Pengambilan sampel dilakukan pada waktu tertentu selama 12 jam. Dilakukan pula uji pengaruh propilen glikol terhadap permeabilitas teofilin melintasi membran dengan konsentrasi 10%, 20% dan 30% v/v dari volume kompartemen donor untuk menilai kemungkinan digunakannya  propilen glikol sebagai enhancer.
  Hasil penelitian menunjukkan bahwa permeabilitas teofilin melewati membran meningkat dengan adanya propilen glikol pada kadar 10% dan 20% dari 3,67 ? 1,05 cm.menit-1 pada sistem tanpa propilen glikol menjadi  berturut-turut 4,11 ? 1,93 cm.menit-1 dan 4,69 ? 0,82 cm.menit-1. Propilen glikol pada kadar 30% menurunkan permeabilitas teofilin melintasi membran menjadi 1,09 ? 0,93 cm.menit-1 . Faktor peningkatan permeabilitas membran (ER) dengan adanya propilen glikol pada kadar 10%, 20% dan 30% berturut-turut adalah 1,12, 1,28 dan 0,30. Kecilnya nilai ER menunjukkan propilen glikol pada konsentrasi 10%, 20% dan 30% kurang potensial untuk digunakan sebagai enhancer dalam difusi teofilin. Waktu laten difusi teofilin tidak menunjukkan keterkaitan yang pasti dengan konsentrasi propilen glikol.

Kata Kunci : Teofilin, propilen glikol, permeabilitas, enhancer, transdermal

ABSTRACT
 
The use of theophylline in transdermal system as antiasthma will have good prospect in therapeutics, related to the practicability and the smooth release of the drug from this system. In order to plan the development of theophylline formulation in transdermal system, this study was done. Theophylline permeability across the Millipore membrane that had impregnated in isopropyl myristate (IPM) was studied in the  Modification of Golberg and Higuchi Diffution Cell. Buffer phosphat pH 7.4 solution in temperature 370C was used as medium in this diffusion system. The amount of theophylline in the donor compartement was 500,0 mg that dissolve in 200,0 ml medium solution. Sampling was dane in the 12 hours time  periods. The influence of propylene glycol in the concentration of 10%, 20% and 30% v/v from total volume in the donor compartment was studied to assess its ability as penetrant enhancer
 The results showed  that the permeability of theophylline across the membrane was increased in system that contained propylene glycol at concentration of 10% and 20%, from 3.67 ? 1.05 cm.minutes-1 to 4.11 ? 1.93 cm.minutes-1 and 4.69 ? 0.82 cm.minutes-1. The permeability was decreased at propylene glycol 30%  to 1.09 ? 0.93 cm.minutes-1. Propylene glycol enhancement ratio (ER) at concentration of 10%, 20% and 30% were 1.12, 1.28 and 0.30. It showed that propylene glycol couldn’t use as effective penetrant enhancer in the theophylline diffusion system. The lag time of this diffusion was not t related exactly to the propylene glycol concentration.

Key Words :Theophylline, propyilene glycol, permeability, enhancer, transdermal

------------------------------------------------------------------
 

Article 5. (number of pages: 5; original language: Indonesian)
 

KORELASI SURFAKTAN DENGAN KEMAMPUAN SOLUBILISASINYA

CORRELATION BETWEEN SURFACTANT AND ITS SOLUBILIZATION CAPACITY

Marchaban
Fakultas Farmasi UGM

ABSTRAK

 Telah dilakukan penelitian tentang korelasi antara surfaktan dengan kemampuan solubilisasi yang dihasilkan. Penelitian dilakukan dengan mempergunakan surfaktan dengan rantai lipofil (gugus setil, stearil dan oleil) dan jumlah etilenoksida masing-masing jenis adalah 2, 10 dan 20 dengan parafin cair sebagai fase minyak serta dibuat berbagai formula. Setelah sediaan dibuat disimpan pada suhu 25 dan 45oC dan diamati terjadinya solubilisasi dengan menghitung prosentasi luas zone solubilisasi terhadap luas segitiga ternernya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlu suatu jumlah molekul etolenoksida yang optimum untuk mencapai hasil solubilisasi yang maksimum untuk tiap jenis surfaktan; semakin panjang rantai hidrokarbon suatu surfaktan akan mempermudah tejadinya solubilisasi namun demikian adanya ikatan rangkap dalam rantai hidrokarbon malahan mengurangi kemampuan solubilisasinya; serta semakin tinggi suhu penyimpanan akan mempermudah terjadinya solubilisasi.

Kata kunci: surfaktan, solubilisasi

ABSTRACT

 The correlation between surfactant and its solubilization capacity has been performed by preparing some solubilization form formulas and using several kinds of lipophilic chain length (cetyl, stearil and oleil) with ethyleneoxyde chain length of 2, 10 and 20 respectively. After being prepared, the solubilization forms were then stored at temperature of 25 and 45oC, and been observed if there were any solubilization occurred. The results shown that it needed optimum molecule number of ethyleneoxyde to have better solubilization; more the length of lipophilic chain used more solubilization would be better, therefore, unsaturated hydrocarbon chain caused diminution of solubilization; whatever surfactant used as agent of solubilization, storage at a higher room temperature would appreciate solubilization occurred.

Key-words: surfactant, solibilization

------------------------------------------