Make your own free website on Tripod.com
Indonesian Journal of Pharmacy

Majalah Farmasi Indonesia (MFI) Volume 10 (1999), Number: 1

 
Article 1. (number of pages: 8; original language: Indonesian)

PENGARUH DUA TURUNAN SELULOSA SEBAGAI PEMBAWA DISPERSI PADAT PADA SIFAT FISIS DAN LAJU PELARUTAN SEDIAAN TABLET DEKSAMETASON

THE EFFECT OF TWO CELLULOSE DERIVATES AS SOLID DISPERSION CARRIERS ON PHYSICAL PROPERTIES AND DISSOLUTION RATE OF DEXAMETHASONE TABLETS

Iskandarsyah*, Achmad Fudholi** dan Riswaka Sudjaswadi **
*Jurusan Farmasi FMIPA-UI, Jakarta.,  **Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta, Indonesia

ABSTRAK

 Pembuatan dispersi padat terbukti dapat meningkatkan laju pelarutan dan ketersediaan hayati bahan obat yang sukar larut dalam air, sehingga cara ini diterapkan untuk deksametason yang dibuat dengan metoda pelarutan.
 Telah dilakukan penelitian mengenai sifat fisis dan laju pelarutan sediaan tablet deksametason yang dibuat dari dispersi padat deksametason dalam pembawa hidroksipropil selulosa  (HPC)  dan  hidroksipropil metil-selulosa  (HPMC).
 Sifat fisis tablet tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna dengan kedua bahan pembawa selulosa, namun laju pelarutan tablet yang dibuat dari dispersi padat dengan pembawa hidroksipropil selulosa lebih tinggi dibanding pembawa hidroksipropil metil-selulosa. Hal ini tampaknya berhubungan dengan substitusi gugus metil pada hidroksipropil metil-selulosa.

Kata kunci : Turunan selulosa, dispersi padat , laju pelarutan, deksametason

ABSTRACT

 The solid dispersion method can be used to improve the dissolution properties and bioavailability of poorly water soluble drugs. We have applied this technology to dexamethasone by solvent evaporation method.
 In order to investigate the physical properties and dissolution rate of dexamethasone tablets, with hydroxypropyl cellulose (HPC) and hydroxypropyl methyl cellulose (HPMC) as solid dispersion systems, the study had been carried out.
 Th4ese two formulas showed no significant differences in the physical properties. However the dissolution rate of tablets made up using hydroxypropyl cellulose as solid dispersion carrier seemed to be higher than that of the hydroxypropyl methyl cellulose. The high dissolution rate was likely due to methyl substitution on hydroxypropyl methyl cellulose structure.

Keywords : Cellulose derivates, solid dispersion, dexamethasone, dissolution rate

 
Article 2. (number of pages: 6; original language: Indonesian)

KETERSEDIAAN HAYATI RELATIF KINIDIN DAN VERAPAMIL PADA TIKUS SETELAH PRA-PERLAKUAN DENGAN LADA PUTIH

RELATIVE BIOAVAILABILITY OF QUINIDINE AND VERAPAMIL IN RATS PRETREATED WITH WHITE PEPPER (Piper album L.)

Lukman Hakim
Laboratorium Farmakologi & Toksikologi, Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta 55281, Indonesia

ABSTRAK

      Penelitian tentang pengaruh bahan obat alam atau bumbu dapur terhadap farmakokinetik (dan efek farmakologi) obat lain belum banyak dilakukan. Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian untuk mempelajari pengaruh pemberian lada putih terhadap ketersediaan hayati relatif kinidin dan verapamil pada tikus.
      Enam kelompok tikus Wistar betina dibagi 2 kelompok secara acak, yaitu kelompok kinidin dan verapamil. Kepada tiga kelompok pertama (kelompok kinidin), masing-masing diberi kinidin saja (30 mg/kg; intra-peritoneal) sebagai kontrol, dan dua kelompok lainnya masing-masing mendapat suspensi lada putih 25 dan 200 mg/kg per oral satu jam sebelum pemberian kinidin. Tiga kelompok sisanya (kelompok verapamil) diperlakukan sama seperti di atas, tetapi obat yang digunakan adalah verapamil (75 mg/kg;ip). Setelah pemberian kinidin atau verapamil, darah diambil dari vena ekor pada waktu-waktu tertentu untuk penetapan kadar kinidin atau verapamil utuh secara fluorometri. Kadar obat di dalam darah terhadap waktu digunakan untuk menghitung nilai parameter farmakokinetik masing-masing, dan nilai purata perlakuan dibandingkan dengan nilai kontrol menggunakan uji Student't (95%).
      Hasil penelitian menunjukkan bahwa pra-perlakuan lada putih dosis rendah (25 mg/kg) tidak mengubah ketersediaan hayati relatif (dan farmakokinetik) kinidin atau verapamil. Tetapi pemberian lada putih dosis besar (200 mg/kg) mengurangi kecepatan absorpsi dan Cmaks kinidin, dan memperlama tmaks-nya, masing-masing 2-kali lipat (p<0,05), sehingga ketersediaan hayati relatif kinidin berkurang menjadi 49,24% dari nilai semula. Sebaliknya untuk verapamil, terjadi peningkatan kecepatan absorpsi, Cmaks, dan AUC, serta penurunan nilai tmaks (p<0,05). Dengan kata lain ketersediaan hayati relatif verapamil meningkat (hampir 2-kali) karena pengaruh lada putih dosis besar.

Kata kunci : kinidin, verapamil, lada putih, ketersediaan hayati, farmakokinetik

ABSTRACT

      Reports concerning the influence of natural medicines and spices on pharmacokinetics (and pharmacological effects) of drugs have been lacking. The effect of white pepper on the relative bioavailability of quinidine and verapamil was therefore studied in rats.
      Female Wistar rats were divided randomly into 6 groups. To the first three groups (quinidine group) of the animals were each given a single dose of quinidine intraperitoneally (30 mg/kg) with and without pre-treatment of 1 % tylose suspension of white pepper (25 and 200 mg/kg peroral), an hour prior to quinidine administration, while to the remaining three groups (verapamil group) were each treated the same, but with verapamil (75 mg/kg;ip). Following the drug administration, blood samples were withdrawn at various time intervals from the tail vein into heparinized tubes for the analysis of unchanged quinidine or verapamil spectrofluorometri-cally. The drug concentrations in blood against time were used to compute the necessary pharmacokinetic parameters. The corresponding mean parameter values of the treated groups were compared with the control values employing unpaired Student's t-test (95%).
      The results showed that pre-treatment with the low dose of white pepper (25 mg/kg) did not alter the bioavailability (and pharmacokinetics) of quinidine or verapamil. However the high pre-treatment dose of the pepper (200 mg/kg) has reduced the absorption rate constant and Cmax values of quinidine and prolonged its tmax value each by 2-fold (p<0.05), which in turn halved its relative bioavailability. On the other hand for verapamil, all the parameters of bioavailability have increased significantly (p<0.05), namely the absorption rate constant, Cmax, and AUC with a decrease of tmax value. In other words the relative bioavailability of verapamil has enhanced (by almost 2-fold) due to the high dose of white pepper.

Key words : quinidine, verapamil, white pepper, bioavailability, pharmacokinetics
 

----------------------------------------------------

 
Article 3. (number of pages: 7; original language: English)

FACTORS INFLUENCING ON DIAZEPAM HOMOGENEITY IN BINARY INTERACTIVE MIXTURE WITH DIFFERENT CARRIERS

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH PADA HOMOGENITAS DIAZEPAM DALAM CAMPURAN INTERAKTIF BINER DENGAN BERBAGAI PEMBAWA

Sri Sulihtyowati Soebagyo* and Peter J. Stewart**
*Faculty of  Pharmacy, Gadjah Mada University,  Yogyakarta, Indonesia
**Department of Pharmacy, University of Queensland, Australia

ABSTRACT

 Interactive mixing requires an interaction between particles, i.e. interaction  of fine particles with the surface of larger particles as the carrier. Two type of forces exist at the particle interface : adhesion and detachment force. The interactive mixing process should depend on carrier particle size, fine particles concentration and affinity of the carrier.
 Interactive mixtures were made by using  diazepam in different concentration with carrier in different types and particle sizes. The mixing process was done in a cube mixer. The degree of affinity of the carrier surface to diazepam was determined by ultracentrifuge method. The conclusion and recommendation from this study were to use Emdex and lactose-strach granules as the carrier for the further studies. Emdex and lactose-starch granules represent the carrier having high and low affinity for diazepam respectively. Result showed that time needed for a satisfactory degree of homogeneity for the diazepam (0,25%) lactose granule interactive mixtures was dependent on the carrier particle size. The homogeneity of the micronized diazepam lactose granule (250-425 ?m) mixture at different diazepam concentration also showed the time dependency. But for Emdex as the carrier there was little effect of  diazepam concentration and particle size of Emdex in the mixing time needed for satisfactory degree of mixtures homogeneity.
It can be concluded that the homogeneity of the binary interactive mixture was affected by the affinity, and particle size of the carrier and the concentration of diazepam as well.

Key words : interactive mixture, homogeneity, diazepam

ABSTRAK
 
Pencampuran interaktif memerlukan interaksi antara partikel-partikel yaitu, interaksi partikel-partikel halus dengan permukaan partikel yang lebih besar yang berfungsi sebagai pembawa. Dua gaya yang ada di antar permukaan partikel : gaya adhesi dan gaya pelepasan. Proses pencampuran interaktif diperkirakan tergantung pada ukuran partikel pembawa, kadar partikel halus dan afinitas pembawa.
 Campuran interaktif dibuat dengan menggunakan diazepam halus dalam kadar bervariasi dan partikel pembawa dalam berbagai tipe dan ukuran. Proses pancampuran dilakukan dalam ‘ cube mixer’.
 Derajat afinitas permukaan partikel pembawa terhadap diazepam diamati dengan cara pemusingan. Dari hasilnya dapat direkomendasikan bahwa untuk penelitian selanjutnya dapat digunakan Emdex dan granul laktosa-amilum, yang masing-masing berturut-turut mewakili partikel pembawa berafinitas tinggi dan rendah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa waktu yang diperlukan untuk menghasilkan campuran interaktif diazepam  (0,25%) – granul laktosa tergantung pada ukuran partikel granul pembawa. Homogenitas campuran interaktif diazepam dalam berbagai kadar dengan granul laktosa  (250-425 ?m) juga memerlukan waktu yang berbeda. Namun untuk Emdex sebagai partikel pembawa, hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar diazepam maupun ukuran partikel pembawa  pengaruhnya kecil terhadap waktu yang diperlukan untuk tingkat homogenitas campuran.
 Dapat disimpulkan bahwa homogenitas campuran interaktif biner dipengaruhi oleh afinitas dan ukuran partikel pembawa juga oleh kadar diazepam.

Kata kunci : campuran interaktif, homogenitas, diazepam.

------------------------------------------------------  

Article 4. (number of pages: 9; original language: Indonesian)

PENYISIPAN  GENA ASI  PENYANDI ASILASE  PENISILIN KE DALAM VEKTOR PLASMID  pAS328

INSERTION OF THE  ACY  GENE ENCODING ACYLASE PENICILLIN INTO THE pAS328 PLASMID VECTOR.

Rumiyati dan Sudjadi
Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta 55281, Indonesia

ABSTRAK
 
Enzim asilase penisilin  dapat memecah   benzilpenisilin    menjadi asam 6-aminopeni-silanat (6-APA). Enzim ini  disandi oleh gena asi yang lokasinya terletak pada plasmid pSW2 dari E.coli LMUGM-G. Plasmid tersebut diperkirakan berduplikat rendah sehingga perlu dilakukan penyisipan ke dalam vektor plasmid  yang berduplikat tinggi, sehingga ekspresi gena asi  akan naik.
  Penyisipan dilakukan dengan memotong plasmid pSW2 dengan enzim EcoRI atau HindIII, fragmen EcoRI atau HindIII ini disisipkan ke dalam vektor plasmid pAS328, kemudian  ditransformasikan ke dalam E. coli DH5?. Transforman yang membawa fragmen EcoRI atau HindIII diukur aktivitasnya dalam membuat 6-APA dengan spektrofotometri menggunakan pereaksi p-dimetilaminobenzaldehida.
 Hasil penelitian  dari uji aktivitas menunjukkan bahwa  aktivitas dalam pembuatan 6-APA dari  transforman yang membawa fragmen EcoRI atau  HindIII   tidak mengalami kenaikan, sedang  hasil analisis DNA plasmid-rekombinan menunjukkan plasmid pSW2 mempunyai pengenal EcoRI lebih dari satu dan mempunyai pengenal HindIII tepat di gena asi.

Kata kunci: Penyisipan, gena asi, asilase penisilin.

ABSTRACT

 The penicillin acylase hydrolyses benzylpenicillin to  6-aminopenicillanic acid (6-APA) encoded by the acy gene  located on  pSW2 plasmid of E coli LMUGM-G.  The pSW2 plasmid is  a low copy number plasmid. Insertion of the acy gene to a high copy number plasmid pAS328, would   increase  expression of the acy gene.
 The EcoRI or HindIII pSW2 fragment was inserted into pAS328 vector, and the recombinant plasmid is transformed into E.coli DH5?. The transformant harboring the recombinant plasmid was measured  the 6-APA activity using the visible spectroscopy with the  DAB reagent.
 The result indicated that, the activity of 6-APA production of transformant harboring the recombinant plasmid  did not increase, while from  the  recombinant plasmid  analysis indicated that the acy gene contains more than one EcoRI sites and one HindIII site.

Keywords: Insertion,  the acy gene, acylase penicillin.

------------------------------------------------------
 
 Article 5. (number of pages: 9; original language: Indonesian)

EFEK MINYAK ATSIRI KULIT KAYU DAN DAUN  Cinnamomum burmanni TERHADAP BAKTERI DAN FUNGI

THE EFFECT OF THE  VOLATILE OIL OF BARK AND LEAVES OF Cinnamomum burmanni  AGAINST BACTERIA AND FUNGI

Elin Yulinah Sukandar, Asep Gana Suganda dan Muslikhati
Jurusan Farmasi ITB, Jl. Ganesha 10, Bandung, Indonesia

ABSTRAK

 Tumbuhan kayu manis ( Cinnamomum burmanni, Lauraceae )  dikenal  dalam campuran jamu untuk menangani berbagai penyakit. Salah satu kandungannya adalah minyak atsiri yang terdapat baik dalam kulit kayu maupun daunnya. Pada umumnya minyak atsiri berkhasiat antimikroba,  oleh karena itu dilakukan pengujian aktivitas terhadap bakteri dan jamur.
Untuk mengetahui kekuatan aktivitas  dan spektrum kerja antimikroba minyak atsiri kulit kayu dan daun kayu manis, telah diuji aktivitas antibakteri dan anti fungi minyak atsiri tersebut  terhadap 14 spesies bakteri dan 18 spesies fungi dengan metode difusi agar. Hasil menunjukkan bahwa minyak atisiri kulit batang mempunyai aktivitas yang kuat terhadap semua bakteri dan fungi uji sedangkan minyak atsiri daun aktif  terhadap semua bakteri uji tetapi tidak aktif terhadap dua marga fungi yaitu Aspergillus dan Scedosporium. Aktivitas antibakteri  minyak atsiri kulit batang paling kuat terhadap Bacillus subtilis dengan konsentrasi hambat minimum 0,62% sedangkan aktivitas antifungi terkuat terhadap Candida albicans dengan konsentrasi hambat minimum 1%. Aktivitas antibakteri minyak atsiri daun paling kuat terhadap Salmonella typhimurium dan aktivitas anti fungi terkuat terhadap Candida albicans masing-masing dengan konsentrasi hambat minimum 2%.
  Aktivitas 1 ml minyak atsiri kulit kayu setara dengan 240,05 mg tetrasiklin terhadap Bacillus subtilis dan 549,54 mg nistatin terhadap Candida albicans. Sedangkan aktivitas 1 ml minyak atsiri daun setara dengan 96,95 mg tetrasiklin terhadap Salmonella typhimurium dan 446,68 mg nistatin terhadap Candida albicans.

Kata Kunci : Kayu manis, Cinnamomum burmanni, minyak atsiri, aktivitas anti-mikroba

ABSTRACT

The kayu manis plant (Cinnamomum burmanni , Lauraceae) has been used  for a long time in jamu mixture to treat various diseases. One of the  components of the bark and leaves of kayu manis is volatile oil. Generally, volatile oil has an antimicrobial effect,  therefore the volatile oil  of kayu manis was tested against bacteria and fungi.
The antibacterial and antifungal activities of volatile oil obtained from bark and leaves of “kayu manis ”  have been tested against 14 bacterial and 18 fungal species by agar diffusion method in order to determine the potency and antimicrobial activity spectrum of the volatile oil. The result showed that the volatile oil from the bark was active to all bacterial and fungal species tested, whereas the volatile oil from the leaves was active against all bacterial species tested but not active against two genus of fungi namely Aspergillus and Scedosporium. The highest antibacterial activity of volatile oil from the bark was against Bacillus subtilis with the minimum inhibitory concentration of 0.62% while the highest antifungal activity was against  Candida albicans with the minimum inhibitory concentration of 1.0%. The highest  antibacterial activity of volatile oil from the leaves was against Salmonella typhimurium and the highest  antifungal activity was against Candida albicans with the minimum inhibitory concentration of 2% each.
The activity  of 1 ml volatile oil from the bark was equivalent to 240.05 mg tetracycline against Bacillus subtilis and 594.54 mg nystatin against Candida albicans while the activity of 1 ml volatile oil from the leaves was equivalent to  96.95 mg tetracycline against Salmonella typhimurium and 446.68 nystatin against Candida albicans.

Keywords : Kayu manis, Cinnamomum burmanni, volatile oil , antimicrobial activity.

------------------------------------------------------------------------------
 
 Article 6. (number of pages: 8; original language: Indonesian)

IDENTIFIKASI SENYAWA ANTIMIKROBA MINYAK ATSIRI DAUN TAGETES (Tagetes erecta L., Fam. COMPOSITAE)

IDENTIFICATION OF ANTIMICROBIAL COMPOUND IN VOLATILE OIL OF THE TAGETES LEAVES (Tagetes erecta L., fam. COMPOSITAE)

Mae Sri Hartati W. 1), Subagus Wahyuono 2), Noor Khasanah 2)
1)  Fak. Kedokteran UGM, 2) Fak. Farmasi UGM, Yogyakarta, Indonesia

ABSTRAK

Tagetes (Tagetes erecta L.) merupakan herba hias yang sangat mudah tumbuh di Indonesia, dan mempunyai aroma yang menyengat. Daun tanaman ini secara tradisional digunakan oleh masyarakat untuk mengobati luka-luka baru, dan dapat dimungkinkan bahwa minyak atsiri yang berperan pada aktivitas antibakteri walaupun sampai saat ini substansi yang berpotensi sebagai antibakteri dari minyak atsiri ini belum diteliti. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menentukan bercak  dan kemungkinan struktur substansi aktif dalam minyak atsiri tagetes. GC-MS minyak atsiri tagetes hasil destilasi uap (0,4%) terdiri 14 puncak dengan 2 puncak utama [Rt. 10,82 min. (24,06%), BM=136; dan 14,74 min. (63,19%), merupakan kadar relatif BM=152]. Berdasarkan atas uji bioautografi bercak pada Rf. 0,37 [SiO2 GF254; pet. eter:etilasetat (15:1 v/v)] mampu menghambat pertumbuhan bakteri Gram (+) Bacillus subtilis ATCC 6633 dan tidak satupun bercak yang menghambat bakteri Gram (-) Eschericia coli ATCC 25922. GC-MS isolat aktif hasil kromatografi lapis tipis (KLT) preparatif menunjukkan bahwa senyawa aktif mempunyai BM=152, dan teridentifikasi sebagai 2-sikloheksen-1-on, 3-metil-6-(1-metiletil) atau p-menth-1-en-3-on atau piperiton (1).

Kata kunci: Tagetes erecta L., Minyak atsiri, Antibakteri, Piperiton

ABSTRACT

Tagetes (Tagetes erecta L.) is an ornamental herb, characterized by its stinky aroma, and it grows easily in Indonesia. The leaves of this species are traditionally utilized to treat wounds, and its volatile oil was suspected to be responsible for this activity although the principal active component in the oil has yet been determined.
This study was intended to determine the antimicrobial active component of tagetes volatile oil. The volatile oil (0,4%) was obtained by steam distillation, and contained 14 peaks with 2 of them were major components in the GC-MS [Rt. 10.82 min. (24.06%), as relative concentration BM=136; and 14.74 min. (63.19%), BM=152]. An antimicrobial active spot was determined at the Rf. 0.37 [SiO2 GF254; pet.ether:ethylacetate (15:1 v/v] by the bioautography test on Gram (+) bacteria Bacillus subtilis ATCC 6633, and no spot was observed to inhibit Gram (-) bacteria Eschericia coli ATCC 25922. GC-MS of the active substance obtained by preparative thin layer chromatography (TLC) indicated that the spot had the molecular weight on m/z 152, and was identified as 2-cyclohexen-1-one, 3 methyl-6-(1-methylethyl) or p-menth-1-en-3-one or piperitone (1).

Key words: Tagetes erecta L., Volatile oil, antimicrobial, piperitone
 

------------------------------------------------------------------------------
 
 Article 7. (number of pages: 9; original language: Indonesian)

AKTIVITAS TRAKEOSPASMOLITIK BUAH Piper cubeba L. f.

TRACHEOSPASMOLYTIC ACTIVITY OF Piper cubeba L. f., FRUCTUS

Subagus Wahyuono 1), Mulyono 2), Wahyono 1) dan Achmad Mursyidi 3)
1)  Lab. Fitokimia, 2) Lab. Farmakologi & Toksikologi, dan 3) Lab. Kimia Farmasi
Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

ABSTRAK

 Buah kemukus (Piper cubeba L. f., fam. Piperaceae) banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk berbagai indikasi diantaranya asma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya efek antagonistik dari buah kemukus terhadap respon kolinergik trakea marmot secara in vitro karena pemberian metakolin (10-9-10-3 M). Ekstraksi dilakukan dengan maserasi bertingkat serbuk buah kemukus kering dengan n-heksana (ekstrak A) yang diikuti dengan EtOH (ekstrak B). Kedua ekstrak ( A dan B) kering tersebut diuji aktivitas trakeospasmolitik, utamanya pada dosis 0,25 dan 0,50 mg/ml. Pada dosis 0,50 mg/ml, kedua ekstrak (A dan B) secara terpisah menghambat 100% (Em= 0%) kontraksi trakea. Berdasarkan atas data kromatografi lapis tipis (KLT), ternyata terdapat senyawa-senyawa tumpang tindih antara A dan B. Oleh karena itu ekstrak A kering difraksinasi dengan MeOH memberikan fraksi larut (A-1) dan fraksi tidak larut MeOH (A-2). Ekstrak B difraksinasi dengan petroleum eter (PE) memberi sari larut (B-1) dan fraksi tidak larut PE (B-2). Uji trakeospasmolitik menunjukkan bahwa endapan A-2 tidak aktif pada dosis uji diatas. Sedangkan pada dosis 0,25 mg/ml aktivitas A-1 (98% atau Em= 2%) praktis sama dengan B-1 (97% atau Em= 3% ) pada dosis yang sama; dan aktivitas fraksi tidak larut PE (B-2)(0,50 mg/ml; 96% atau Em= 4%) adalah separoh dari aktivitas A-1 atau B-1. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa senyawa aktif sebagai trakeospasmolitik dari buah P. cubeba terdapat dalam fraksi relatif semi-polar dan polar.

Kata kunci : Piper cubeba, aktivitas trakeospasmolitik

ABSTRACT

 Cubeba fructus (Piper cubeba L. f., fam Piperaceae) has been utilized in the traditional medicine to treat various health problems such as asthma. This research was aimed to study the antagonistic effect in vitro of cubeba fructus on isolated guinea pig trachea contracted with metacholine (10-9-10-3 M). The extracts for the study were prepared by a gradual maceration of the dried, powdered fructus with n-hexane (A) followed by EtOH (B). Both extracts were tested for their tracheospasmolytic activities initially at the dose of 0.25 and 0.50 mg/ml. Both extracts (A and B) separately demonstrated a complete spasm inhibition (100%, or Em= 0%) at the dose of 0.50 mg/ml. Based on the TLC picture, overlap compounds occurred on both extracts.  Therefore, the A extract was fractionated by MeOH to give MeOH soluble (A-1) and insoluble fractions (A-2) while the B extract was fractionated by petroleum eter (PE) to give PE soluble (B-1) and insoluble fractions (B-2). Tracheospasmolytic test indicated that precipitate A-2 was practically inactive at indicated dose, while the tracheospasmolytic activity of A-1 (98% or Em= 2%) was considered equivalent to B-1 (97% or Em= 3%) at equal doses (0.25 mg/ml). In addition, the tracheospasmolytic activity of B-2 (0.50 mg/ml; 96% or Em= 4%) was a half of the A-1 or B-1 tracheospasmolytic activity. Based on those data above, it can be concluded that the tracheospasmolytic active compounds are present in the relatively semi-polar and polar fractions.

Key words: Piper cubeba, Tracheospasmolytic activity

-------------------------------

 Article 8. (number of pages: 7; original language: Indonesian)

PENENTUAN STABILITAS DAN WAKTU PARO EFEKTIF RADIOFARMAKA  PENYIDIK TULANG 99mTc-HEDSPA, 99mTc-MDP
DAN 99mTc-PIROFOSFAT

DETERMINATION OF THE STABILITY AND EFFECTIVE HALF-LIFE OF 99mTc-HEDSPA, 99mTc-MDP AND 99mTc-PYROPHOSPHATE
BONE IMAGING RADIOPHARMACEUTICALS

Nurlaila  Z.*), Sriwoelan Soebito**);  Windahayani**)
*) Pusat Penelitian Teknik Nuklir-BATAN, Bandung.**) Jur. Farmasi, FMIPA-ITB, Bandung, Indonesia

ABSTRAK
 
Selama penyimpanan, radiofarmaka penyidik tulang dapat terurai baik yang disebabkan oleh radiolisis maupun penguraian kimia biasa, sehingga perlu ditentukan stabilitasnya guna mengetahui waktu kadaluarsa radiofarmaka tersebut.  Selain itu, keberhasilan suatu diagnosis dengan metode penyidikan ditentukan juga oleh pemilihan waktu penyidikan yang tepat setelah sediaan tersebut disuntikkan, dimana hampir semua sediaan telah terakumulasi pada organ yang diinginkan.  Untuk itu perlu diketahui waktu paro efektif radiofarmaka tersebut di dalam darah yaitu berkurangnya aktivitas dalam darah, yang bertalian erat dengan waktu. Telah dilakukan penentuan stabilitas dan waktu paro efektif radiofarmaka penyidik tulang 99mTc-hidroksi etileden dinatrium difosfonat (99mTc-HEDSPA), 99mTc-metileden difosfonat (99mTc-MDP) dan 99mTc-pirofosfat.  Stabilitas radiofarmaka ditentukan dengan jalan melihat kemurnian radiokimianya menggunakan metode kromatografi kertas dengan pelarut metanol 85% dan larutan NaCl 0,9%.  Hasil menunjukkan bahwa sampai 6 jam setelah penambahan radionuklida 99mTc, sediaan 99mTc-HEDSPA dan 99mTc-pirofosfat masih tetap stabil dengan kemurnian radiokimia masing-masing sebesar 96,97 ? 1,67 % dan 96,34 ? 0,89 %, sedangkan 99mTc-MDP stabilitasnya telah menurun dengan kemurnian radiokimia sebesar 88,03 ? 1,30 %.  Penentuan waktu paro efektif dilakukan dengan jalan mengukur radioaktivitas darah binatang percobaan yang diambil pada waktu-waktu tertentu setelah penyuntikan sediaan.  Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa waktu paro efektif dalam darah radiofarmaka penyidik tulang dalam bentuk senyawa fosfat anorganik 99mTc-pirofosfat lebih lama (Te = 27,33 menit) dibandingkan senyawa fosfat organik 99mTc-HEDSPA (Te = 23,05 menit) dan 99mTc-MDP (Te = 24,96 menit).

Kata kunci : stabilitas, waktu paro efektif, radiofarmaka penyidik tulang, 99mTc-HEDSPA, 99mTc  MDP, 99mTc-pirofosfat, teknesium-99m.

ABSTRACT
 
Bone imaging radiopharmaceuticals could decompose chemically or radiolysis during storage. The stability should therefore be determined to the expiration time. Moreover, a successful diagnose by imaging method is also determined by exact imaging time after the injection, where almost all of the compound has been accumulated in the target organ. The effective half-life of the compound in blood, that is deceleration activity in blood versus time, should be recognized.  Therefore the stability and effective half-life of 99mTc-hydroxy ethyledene disodium diphosphonate (99mTc-HEDSPA), 99mTc-methyledene diphosphonate (99mTc-MDP) and 99mTc-pyrophosphate bone imaging radiopharmaceuticals have been carried out.  The stability determination is needed in order to identify the expiration time of the compound after addition the radioactive material to the dried-kit.  The stability of these compounds was observed through the radiochemical purity using paper chromatography method with 85% of methanol and NaCl 0,9% solution as solvents.  The results showed that six hours after mixing the dried-kit with 99mTc radionuclide, 99mTc-HEDSPA and 99mTc-pyrophosphate remain stable with 96,97 ? 1,67 % and 96,34 ? 0,89 % of radiochemical purity, respectively; while the stability of 99mTc-MDP has decreased with 88,03 ? 1,30 % of radiochemical purity.  The determination of effective half-life was carried out through the blood activity measurement at various time after intravenous injection of the labeled compound.  The result showed that the effective half-life of phosphate inorganic 99mTc-pyrophosphate (Te = 27,33 minutes) is longer than that of phosphate organic 99mTc-HEDSPA (Te = 23,05 %) and 99mTc-MDP (Te = 24,96 minutes).

Keywords : stability, effective half-life, bone imaging radiopharmaceutical, 99mTc-HEDSPA, 99mTc-MDP, 99mTc-pyrophosphate

-------------------------------