Make your own free website on Tripod.com
Indonesian Journal of Pharmacy

Majalah Farmasi Indonesia (MFI) Volume 10 (1999), Number: 2

 
Article 1. (number of pages: 8; original language: Indonesian)

FORMULASI SEDIAAN LEPAS LAMBAT TEOFILIN DENGAN PENYALUT HPMC

THEOPHYLLINE SUSTAINED RELEASE FORMULATION USING HPMC AS COATING MATERIAL

Inding Gusmayadi*, TN Saifullah Sulaiman**, dan Sri Sulihtyowati Soebagyo**
*Fakultas Farmasi, Universitas 17 Agustus 1945, Jakarta, ** Fak. Farmasi UGM Yogyakarta
 
ABSTRAK

Sediaan obat lepas lambat dapat melepaskan obat secara perlahan untuk jangka waktu yang cukup lama. Hidroksipropil metilselulosa (HPMC) merupakan salah satu turunan selulosa yang dapat digunakan untuk menyalut tablet atau granul untuk mengurangi kecepatan pelepasan obat.
Dalam penelitian ini digunakan teofilin sebagai model obat. Obat yang sudah digranul, dibagi dalam 4 Kelompok. Kelompok I tanpa disalut, Kelompok II, III dan IV masing-masing sebanyak 125 gram secara berurutan disalut dengan larutan 5 % HPMC yang berbeda jumlahnya, yaitu 100 ml, 150 ml, dan 200 ml. Granul sebanyak 500 mg dimasukkan ke dalam kapsul, kemudian diuji pelepasannya lewat kecepatan disolusi obatnya dalam labu Poole dengan pengaduk dayung, kecepatan putar 100 rpm, dengan medium HCl 0,01 N suhu 37 ? 0,5oC.
Kecepatan disolusi teofilin dari sediaan menunjukkan pengurangan sebanding dengan semakin banyaknya penyalut HPMC, dan ada korelasi linear antara jumlah larutan HPMC 5% dengan kecepatan disolusi obat dari sediaan, sehingga formulasi yang tepat untuk sediaan lepas lambat teofilin dapat diperhitungkan.

Kata kunci: lepas lambat, HPMC, teofilin.

ABSTRACT

The sustained release dosage form slowly releases drug in a long term fashion. Hydroxypropil methylcellulose (HPMC) is a cellulose-derived compound that is used to coat granules or tablets in order to reduce the rate of drug release.
Theophylline was used as a model drug in this study. The granulated drug was divided into 4 groups. Group I was uncoated, groups II, III and IV each of 125 gram were coated with different amount of 5% HPMC solution, i.e. 100 ml, 150 ml and 200 ml, respectively. The granules of 500 mg were filled into the capsules, then were tested their drug release in a dissolution tester using a Poole’s flask containing 0.01 N HCl at 37 ? 0,5oC with 100 rpm stirring rotation.
The dissolution rate of theophylline has a linear correlation with the amount of coating solution. The dissolution rate decreased with the increasing amount of 5% HPMC solution used, so that the appropriate formulation of theophylline sustained release dosage form can be calculated.

Key Words: sustained release, HPMC, theophylline.

--------------------------------------------------------

Article 2. (number of pages: 5; original language: Indonesian)

CMAKS DAN AUC SEBAGAI PARAMETER ALTERNATIF UNTUK MENDETEKSI KINETIK-TERGANTUNG DOSIS SALISILAMID PADA TIKUS
 
CMAX AND AUC AS ALTERNATIVE DOSE-DEPENDENT KINETIC PARAMETERS FOR SALICYLAMIDE IN RATS
 
Lukman Hakim
Laboratorium Farmakologi & Toksikologi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Indonesia
 
ABSTRAK

      Pada umumnya waktu-paro eliminasi (t1/2 elim.) digunakan untuk menilai perubahan profil farmakokinetik sebagai akibat perubahan dosis (dose-dependent pharmacokinetics). Dalam penelitian ini akan diuji apakah parameter tersebut selalu berlaku untuk semua jenis obat. Untuk membuktikan hal tersebut, salisilamid dengan tiga peringkat dosis diberikan kepada hewan percobaan.
      Sekelompok tikus jantan Sprague-Dawley (200-300 g) dibagi menjadi tiga kelompok secara acak. Hewan uji pada kelompok 1 mendapat suntikan tunggal larutan salisilamid 25 mg/kg secara intraperitoneal (ip), sedangkan pada kelompok 2 dan 3 diberi salisilamid seperti di atas, berturut-turut dengan dosis 50 dan 100 mg/kg. Pada menit-menit ke 2, 5, 8, 12, 15, 20, 25, 30, 40, 50 dan 60 setelah pemberian obat, 200 ?l darah ditoreh dari vena lateralis ekor dan ditampung ke dalam tabung Eppendorf yang berisi heparin (10 ?l) untuk penetapan kadar salisilamid utuh secara fluorometri menurut Iwamoto dkk. Selanjutnya data kadar obat terhadap waktu digunakan untuk menghitung nilai parameter farmakokinetik yang diperlukan (t1/2 elim., Vdss, CL dan AUC) menggunakan metode stripping; nilai Cmaks diambil dari data observasi. Nilai parameter antar kelompok dibandingkan dengan analisa varian satu jalan, dan jika terdapat perbedaan bermakna uji dilanjutkan dengan Students t.
      Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata Cmaks dan AUC lebih peka untuk mendeteksi adanya kinetik tergantung dosis salisilamid dibandingkan waktu-paro eliminasi pada tikus.

Kata kunci: farmakokinetik, salisilamid, Cmaks, AUC, waktu-paro eliminasi
 
ABSTRACT

      Elimination half-life (t1/2 elim.) has been a common parameter to evaluate the existence of dose-dependent pharmacokinetics of drugs. To confirm that the parameter is valid for all drugs, three doses of salicylamide were given to laboratory animals.
      Male Sprague-Dawley rats (200-300 g) were divided randomly into three groups. To the animals in group 1 were each administered intraperitoneally (ip) a basic solution of salicylamide (25 mg/kg), while to the groups 2 and 3 were treated the same but with increasing doses of the drug, i.e. 50 and 100 mg/kg, respectively. Blood samples (200 ?l) were taken at various time intervals following the drug administration at 2, 5, 8, 12, 15, 20, 25, 30, 40, 50 and 60 minutes from lateral tail vein for the fluorimetric analysis of unchanged salicylamide according to Iwamoto et al. The necessary parameters (t1/2 elim., Vdss, CL and AUC) were obtained by a stripping method from the concentration-time profiles of the drug (while Cmax was taken from the observed data), the values of which were compared subsequently by a one-way analysis of variance and unpaired Student's t-test.
      The results showed that in the case of salicylamide, Cmax and AUC were more sensitive parameters to show the existence of dose-dependent kinetic changes rather than the elimination half-life in the rats.

Keywords : pharmacokinetics, salicylamide, Cmax, AUC, elimination half-life.
 
----------------------------------------------------------------
 
Article 3. (number of pages: 7; original language: Indonesian)

PERBANDINGAN DISOLUSI SEDIAAN LEPAS LAMBAT ASAM MEFENAMAT DENGAN BAHAN PENYALUT HIDROKSI PROPIL METIL SELULOSA DAN CERA ALBA

THE COMPARATION OF MEFENAMIC ACID DISSOLUTION
IN SUSTAINED RELEASE TABLETS USING HYDROXY PROPYL METHYL CELLULOSE AND CERA ALBA AS FILM COATING
 
Akhmad Kharis Nugroho dan Achmad Fudholi
Bagian Farmasetika Fakultas Farmasi UGM
 
ABSTRAK

 Pemilihan jenis penyalut sangat menetukan keberhasilan formulasi suatu sediaan lepas lambat. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian untuk membandingkan profil disolusi sediaan lepas lambat asam mefenamat dengan bahan penyalut hidroksi propil metil selulosa (HPMC) yang bersifat hidrofil dengan cera alba yang bersifat lipofil
 Empat formula sediaan lepas lambat asam mefenamat dan satu formula tablet asam mefenamat konvensional sebagai pembanding dibuat dalam penelitian. Formula I dan Formula II menggunakan HPMC sebagai penyalut sedangkan formula III dan IV menggunakan cera alba sebagai penyalut. Formula I dan III menggunakan sistem pencampuran bahan penyalut secara langsung pada saat granulasi sedangkan formula II dan IV menggunakan sistem penyemprotan larutan bahan penyalut terhadap granul kering. Tablet yang diperoleh diuji sifat fisik dan karakteristik disolusinya.
 Hasil penelitian menunjukkan bahwa tablet formula I, II dan V memenuhi semua persyaratan sifat fisis tablet, sementara tablet formula II dan IV tidak memenuhi persyaratan waktu hancur. Penelitian terhadap DE240 dan profil disolusi sediaan lepas lambat asam mefenamat menunjukkan bahwa formula I yang menggunakan HPMC 5% sebagai penyalut dengan metode penyalutan secara langsung pada saat granulasi  mempunyai karakteristik disolusi yang dipandang paling sesuai untuk sediaan lepas lambat asam mefenamat.

Kata Kunci : asam mefenamat, HPMC, cera alba, disolusi, tablet lepas lambat
 
ABSTRACT

 The choise of film coating materials was very crucial for the formulation of sustained release tablets. This research was aimed to compare dissolution profiles of mefenamic acid in sustained release tablets using hydroxy propyl methyl cellulose (HPMC) and cera alba as hydrophilic and lipophilic film coating, respectively.
 Four formulas of mefenamic acid sustained release tablets and one formula of mefenamic acid conventional tablets as a control, were made. HPMC was used as film coating in formula I and formula II whereas cera alba was used as film coating in formula III and formula IV. There were a different system of coating methods. HPMC (formula I) or cera alba (formula II) were mixed directly during granulation process, however three materials were sprayed to dry granules in formula II and formula IV. The physical characteristics and dissolution characteristics of these five formulas tablets then were examined.
 The results showed that formula I, II and V fulfilled all physical characteristics stipulation. Formulas III and IV failed to fulfill disintegration time. The DE240 and dissolution profile studies showed that formula I that used HPMC 5% as coating film and mixed directly during granulation process was the most suitable for sustained release tablets.

Key words : mefenamic acid, HPMC, cera alba, dissolution, sustained release tablet

------------------------------------------------------------------
 
 

Article 4. (number of pages: 10; original language: Indonesian)

EFEK KONSENTRASI OBAT DI DALAM PERFUSAT TERHADAP DISPOSISI ASAM KLOFIBRAT PADA HEPAR TIKUS  TERISOLASI YANG DIPERFUSI

EFFECT OF PORTAL VEIN PERFUSATE CONCENTRATION ON THE DISPOSITION OF CLOFIBRIC ACID IN THE ISOLATED PERFUSED RAT LIVER
 
Chairun W*, AM Evans** and RL Nation**
 * Fak. Farmasi UGM, ** School of Pharmacy and Medical Science, South Australia University
 
ABSTRAK

Perfusi organ terisolasi banyak digunakan dalam mempelajari fungsi hepar. Dengan metode ini hepar dalam keadaan utuh dapat diperfusi tanpa dipengaruhi sistim jaringan maupun organ yang lain. Penentuan parameter farmakokinetika dari asam klofibrat telah dilakukan dengan menggunakan sistim perfusi organ hepar tikus yang terisolasi. Tiga macam konsentrasi asam klofibrat: 0,2; 1,0; 5mg/L diperfusikan selama 60 menit dengan disain paralel dan cross over.
Keadaan tunak tercapai dalam waktu 15 menit setelah perfusi, dan dihasilkan metabolit utama asam klofibrat glukuronat. Pada konsentrasi asam klofibrat 0,2 dan 1,0mg/L tidak terdapat perbedaan nilai parameter farmakokinetika yang bermakna. Tetapi, dengan naiknya konsentrasi asam klofibrat menjadi 5 mg/L, rasio ekstraksi hepar menjadi berbeda nyata (P<0,05, ANOVA) dengan hasil yang didapat pada konsentrasi asam klofibrat 0,2 dan 1mg/L.

Kata kunci: asam klofibrat, konjugat glukuronat, perfusi organ hepar terisolasi, pharmakokinetika
 
ABSTRACT

The isolated perfused liver is widely used for studying hepatic function. This system is attractive because the architecture of the liver remains relatively intact and the liver is able to be perfused without the influences of other tissues and organ systems. The pharmacokinetic parameterS of clofibric acid in isolated perfused rat liver (IPRL) were studied in three different inflow perfuse concentrations of 0.2; 1.0; and 5,0 mg/L. Perfusions were conducted for 60 minutes in parallel and cross over manner.
 Steady state with respect to outflow perfusate concentrations was attained at about 15 minutes and the major hepatic metabolism of clofibric acid in IPRL was clofibric acid glucuronide. Using clofibric acid input concentration of 0.2 and 1.0 mg/L there was no significantly different in parameter pharmacokinetics value. However, in clofibric acid input concentration of 5 mg/L, the hepatic extraction ratio of clofibric acid was significantly different (P<0.05, ANOVA) to the value obtained at an inflow concentration of 0.2 and 1.0 mg/L.

Key words: clofibric acid, glucuronic conjugate, isolated perfused liver, pharmacokinetics
 
--------------------------------------------------------
 
 

Article 5. (number of pages: 8; original language: Indonesian)

ISOLASI   DAN  IDENTIFIKASI SENYAWA DALAM EKSTRAK PETROLEUM  ETER  KULIT  RANTING Murraya paniculata (L.)

ISOLATION AND IDENTIFICATION OF COMPOUNDS IN PETROLEUM EXTRACT OF Murraya paniculata ‘s (L.) BRANDS CORTEX.

Sugeng Riyanto1, Mohd.Aspollah Sukari2, Mawardi Rahmani2, Abd.Manaf Ali3, dan Norio Aimi4
1Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
2Jabatan Kimia, Fakulti Sain dan Pengajian Alam Sekitar, UPM, Selangor, Malaysia.
3Jabatan Bioteknologi,Universiti Putra Malaysia, Selangor, Malaysia.
4Faculty of Pharmaceutical Chemistry,Chiba University,Chiba 263-8522,Japan.
 
ABSTRAK

Murraya  paniculata (L.)Jack (Rutaceae) adalah tanaman yang berbentuk pohon, pada umumnya mempunyai tinggi 1 hingga 5 meter. Pohon ini dijumpai di daerah tropika dan subtropika ditanam sebagai tanaman hias dihalaman atau sebagai pohon liar. Bagian-bagian tanaman ini digunakan sebagai obat tradisional, sebagai misal ; daun dan akarnya digunakan untuk mengobati sakit perut dan sakit gigi, sedangkan kulitnya digunakan untuk melawan rasa sakit. Pada penelitian ini dapat dipisahkan senyawa-senyawa dari ekstrak petroleum eter kulit ranting Murraya paniculata. Dengan cara kerja yang digunakan dapat dipisahkan : 3’,4’,5’,3,5,6,7,8-oktametoksiflavon sebagai senyawa yang belum pernah dilaporkan terkandung di dalam kulit ranting Murraya paniculata, bersama dengan senyawa flavon yang sebelumnya telah dipisahkan, yaitu 3’,4’,5’,3,5,6,7-heptametoksiflavon. Juga dapat diidentifikasi stigmasterol. Pemisahan senyawa-senyawa ini melibatkan ekstraksi pelarut, diikuti dengan kromatografi kolom. Struktur molekul senyawa-senyawa yang dipisahkan ditentukan dengan metode spektroskopi yaitu  UV, IR, Massa dan RMI-2D. Uji sitotoksik diukur terhadap cell line : CEM-ss (T-lymphoblastic leukaemia). Hasilnya menunjukkan bahwa IC50  ekstrak petroleum eter kulit ranting Murraya paniculata  adalah  30 ?g/ml.

Kata kunci : Murraya  paniculata, kulit-ranting, flavon, stigmasterol, sitotoksik

ABSTRACT

Murraya  paniculata (L.)Jack (Rutaceae) is a tree, commonly, one  to 5 meter high. The tree is found in tropic and sub-tropic and planted as an ornament in landscaping or it grows as wild trees. Parts of the plant were used as traditional medicine, such as the leaves and the roots were used for the treatment of stomachache and toothache, while the bark was used for analgetic. In this study  we would like to report the compounds isolated from the petroleum ether extract of brands cortex of Muraya. paniculata (L) Working procedure has afforded to isolate 3’,4’,5’,3,5,6,7,8-octamethoxyflavone for the first time from the stem bark, together with the previously isolated flavone, 3’,4’,5’,3,5,6,7-heptamethoxyflavone and stigmasterol. The isolation of the compounds involved extraction with solvents, followed by separation using column chromatography technique. The structures of the compounds were confirmed by spectroscopic data, such as UV, IR, MS and 2D-NMR spectra. The cytotoxic test was measured against cell line : CEM-ss (T-lymphoblastic leukaemia). The result showed that IC50 of the extract was 30 ?g/ml.
Key words :  Murraya paniculata, stem-bark, flavone, stigmasterol, cytotoxic.

------------------------------------------------------
 

Article 6. (number of pages: 9; original language: Indonesian)

KOMPOSISI MINYAK ATSIRI DARI TIGA JENIS Litsea (LAURACEAE)

ESSENTIAL OIL COMPOSITION OF FROM THREE Litsea SPECIES (LAURACEAE)

Andria Agusta, Yuliasri Jamal dan Chairul
Laoratorium Fitokimia, Balitbang Botani, Puslitbang Biologi LIPI. Jl. Ir. H Juanda 22, Bogor
 
ABSTRAK

Distilasi kulit batang Litsea elliptica, L. robusta dan L. timoriana secara distilasi air menghasilkan minyak atsiri sebesar 0.04 %, 0.87 % dan <0.01 % . Analisis GCMS menunjukkan bahwa minyak L. elliptica terdiri dari 76.32 % seskuiterpena, 10.05 % seskuiterpena alkohol, 10.84 % aldehida dengan dua komponen utama yaitu 1R-((1?,7?,8a?)-1,2,3,5,6,7,8,8a-oktahidro-1,8a-dimetil-7-(1-metiletenil)-naftalena (15.18 %) dan ?-kadinena (13.21 %). Minyak L. robusta terdiri dari 35.60 % monoterpena, 53.99 % seskuiterpena, 9.09 % seskuiterpena alkohol dengan tiga komponen utama yaitu ?-pinena (24.59 %), kariofilena (18.29 %) dan satu komponen yang tidak diketahui dengan kandungan 15.82 %. Minyak L. timoriana terdiri dari 87.44 % seskuiterpena, 12.56 seskuiterpena alkohol dengan dua komponen utama yaitu ?-kadinena (13.55 %) dan (+) ledena (16.52 %).

Kata Kunci:  Litsea elliptica, L.robusta, L.timoriana, Lauraceae, minyak atsiri, komponen  kimia

ABSTRACT

Water distillation of  Litsea elliptica, L. robusta and L. timoriana stem barks yielded 0.04%, 0.87% and less than 0.01% essential oils. GCMS analyses indicated the oil of L. elliptica consisted of 76.32% sesquiterpenes, 10.05% sesquiterpene alcohols, 10.84% aldehydes with 2 major components, 1R-(1?,7?,8a?)-1,2,3,5,6,7,8,8a-octahydro-1,8a-dimethyl-7-(1-methyletenyl) naph-talene (15.18 %) dan ?-cadinene (13.21 %). Essential oil of L. robusta gave 35.60% monoterpenes, 53.99% sesquiterpenes, 9.09% sesquiterpene alcohols with 3 major components ?-pinene (24.59 %), caryophillene (18.29 %) and an unidentified component of 15.82%. Essential oil of L. timoriana contained 87.44% sesquiterpenes, 12.56% sesquiterpene alcohols with 2 major components, ?-cadinene (13.55 %) and (+) ledene (16.52 %).

Key words: Litsea elliptica, L.robusta, L.timoriana, Lauraceae, essential oil, chemical
                     components.
 
---------------------------------------------------------------
 

Article 7. (number of pages: 8; original language: Indonesian)

KOMPONEN KIMIA DAN UJI DAYA ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN KIRINYU (Tithonia diversifolia)

CHEMICAL COMPONENTS AND ANTIBACTERIAL ASSAY OF KIRINYU(Tithonia diversifolia)  LEAVES EXTRACT

Yuliasri Jamal dan Andria Agusta
Laboratorium Treub, Puslitbang Biologi-LIPI, Jl. Ir. H. Juanda 22, Bogor
 
ABSTRAK

 Dari hasil analisis GCMS ekstrak daun kirinyu (Tithonia diversifolia) terdeteksi sebanyak 38 komponen dengan 8 komponen utama yaitu asam palmitat; 9-pentadekadien-1-ol; benzil benzoat; stearaldehida; ?-metilamina; 1,2,3,5-sikloheksantetrol serta dua senyawa yang tidak teridentifikasi. Sedangkan hasil pengujian daya anti bakteri ekstrak daun tumbuhan ini memperlihatkan bahwa hanya ekstrak kloroform yang aktif terhadap keempat bakteri patogen yang digunakan (Staphylococcus aureus, Staphyllococcus epidermis, Streptococcus ? haemoliticus, Bacillus subtilis) dengan aktivitas paling tinggi pada bakteri Streptococcus ?-haemoliticus.

Kata Kunci: Asteraceae; kirinyu; T. diversifolia; komponen kimia; daya anti bakteri
 
ABSTRACT

 Using GCMS analyses from the extracts of Kirinyu (Tithonia diversifolia) leaves were detected 38 components, 8 of them were the major components; palmitic acid;  9-pentadecadien-1-ol; benzyl benzoate; stearaldehyde; ?-methylamine; 1,2,3,5-cyclohexantetrol; and the other two unidentified components. Antibacterial test of the extracts showed that only chloroform extract was active against the four pathogenic bacteria (Staphylococcus aureus, Staphyllococcus epidermidis, Streptococcus ?-haemoliticus, Bacillus subtilis) with the highest activity on Streptococcus ?-haemoliticus.

Key words: Asteraceae; kirinyu; T. diversifolia; chemical components; antibacterial activity.