Make your own free website on Tripod.com
Indonesian Journal of Pharmacy

Majalah Farmasi Indonesia (MFI) Volume 10 (1999), Number: 3

 
Article 1. (number of pages: 6; original language: Indonesian)
 
ANTIBODI MONOKLONAL TERHADAP ANTIGEN VIRUS DENGUE-3

MONOCLONAL ANTIBODIES SPECIFIC FOR DENGUE-3 VIRUS ANTIGEN

*Purwantiningsih, *Djoko Wahyono, dan **Wayan T. Artama
*Lab. Farmakologi & Toksikologi Fak. Farmasi UGM
**Fak. Kedokteran Hewan UGM

ABSTRAK

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu jenis penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan seringkali mengakibatkan kematian. Untuk mengurangi angka kematian diperlukan suatu metoda deteksi dini DBD. Tetapi, sejauh ini berbagai upaya penegakan diagnosis yang ada belum memberikan hasil yang memuaskan.
Metode baru yang tengah dikembangkan adalah metoda ELISA (Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay). Untuk diagnosis baru ini dibutuhkan antibodi spesifik  dan mempunyai afinitas tinggi terhadap antigen virus dengue (antibodi monoklonal). Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh  antibodi monoklonal yang dapat diproduksi dengan teknik hibridasi dan kloning  berulang.
Produksi antibodi monoklonal spesifik terhadap antigen virus dengue-3 dilakukan dalam beberapa tahap. Tahap pertama adalah imunisasi terhadp sekelompok mencit Balb/c dengan cara menyuntikkan antige virus dengue untuk memperoleh respon imun terhadap antigen virus. Tahap ke dua yaitu fusi sel mieloma dan limfosit yang berasal dari mencit Balb/c.  Tahap ke tiga merupakan kultivasi sel hibrid hasil fusi. Selanjutnya sel hibrid yang memproduksi antibodi monoklonal dikloning menggunakan metode pengenceran untuk mendapatkan klon yang homogen.
Dari hasil fusi antara sel mieloma (NS-1) dan limfosit mencit Balb/c yang diimunisasi dengan antigen virus dengue-3 diperoleh 24 klon hibridoma yang memproduksi antibodi spesifik terhadap antigen virus dengue-3.

Kata kunci:  demam berdarah dengue (DBD), ELISA, antibodi monoklonal, kloning

ABSTRACT

Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) is an epidemic disease caused by dengue viruses and frequently causes death. To decrease the mortality due to DHF, an early detection method id badly needed.  However, up to the present the existing efforts have yet yielded a satisfaction result.
A new method being developed is ELISA (Enzyme Linked  Immuno Sorbent Assay). This new diagnosis needs a specific antibody with a high affinity to dengue virus antigen term as monoclonal antibody. The aim of this research is to obtain monoclonal antibody produced by hybridization technique and repetitive cloning.
The production of monoclonal antibody specific to dengue virus consists of three stages. First, immunization of Balb/c mice using dengue-3 virus antigen to elicit immune respond. Secondly, fussion of meyloma cells (NS-1) and lymphocit obtained from treated-Balb/c mice and finally, cultivation of hybrid cells yielded from fusion. Monoclonal antibody producing hybrid cell was then cloned using dilution method in order to obtain homogen clone.
The result suggested that 24 hybridome clones, producing specific monoclonal antibodies aganist dengue-3, were acquired

Key words: dengue haemorrhagic fever (DHF), enzyme linked immuno sorbent assay (ELISA),
       monoclonal antibody, cloning

----------------------------------------------------------------
 

Article 1. (number of pages: 8; original language: English)

CHARACTERIZATION OF A BIOACTIVE SUBSTANCE  Alpha-MANGOSTEN ISOLATED FROM THE HULL OF GARCINIA MANGOSTANA L.

KARAKTERISASI SENYAWA BIOAKTIF alpha-MANGOSTIN DARI KULIT BUAH GARCINIA MANGOSTANA L

Subagus Wahyuono1), Puji Astuti1), Wayan T. Artama2)
Laboratories of  1)Pharmaceutical Biology, Faculty of Pharmacy,
 2)Biochemistry, Inter University Centre,  Gadjah Mada University, Yogyakarta

ABSTRAK

Kebutuhan obat baru selalu meningkat secara kualitatif maupun kuantitatif. Sumber-sumber alami seperti obat tradisional secara luas telah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengobati berbagai penyakit merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan obat baru. Pencarian obat baru dapat dimulai dari isolasi dan identifikasi kandungan utama dari bahan alam. Kulit buah Garcinia mangostana L. (Manggis) telah digunakan dalam obat tradisional untuk mengatasi gangguan pernafasan. ?-Mangostin, senyawa derivat ksanton adalah kandungan utama dalam kulit buah G. mangostana dapat digunakan sebagai senyawa awal untuk pengembangan obat-obat baru. Dalam artikel ini, dilaporkan isolasi dan identifikasi alfa-mangostin (LC-50 = 8,02 mcg/ml, dengan BST) dari kulit buah G. mangostana secara spektroskopi (UV, IR, MS dan 1H-NMR) yang dibandingkan dengan spektra dari ?-mangostin baku.

Kata kunci : Garcinia mangostana, alfa-mangostin, data spektroskopi

ABSTRACT

 The need of new medicines is increasing qualitatively as well as quantitatively from time to time. Natural resource such as traditional medicines that have been extensively utilized to treat various diseases, is the ultimate alternative to fulfill the need. Searching for a new medicine can be initiated by isolating and identifying the major compounds present in the natural resources. The hull of Garcinia mangostana L. (Manggis) has been used traditionally to treat respiratory disorders in Indonesia. alpha-Mangosten, a xanthone type of compound, is a major substance present in the hull of Garcinia mangostana L. can be used as a starting material for development of new medicines. In this paper, isolation and purification procedures of ?-mangosten (LC-50 = 8.02 mcg/ml on BST) from the hull of G. mangostana are reported. Characterization is carried out by spectroscopic methods (IR, UV, MS and 1H-NMR) compared with standard spectra of ?-mangosten.

Key words: Garcinia mangostana, alpha-mangosten, spectroscopic data

--------------------------------------------------------------------
 

Article 3. (number of pages: ; original language: Indonesian)
 

--------------------------------------------------------------------

Article 4. (number of pages: 9; original language: Indonesian)

METODE PENETAPAN KADAR HORMON ETUNILESTRADIOL DAN DESOGESTREL DALAM TABLET KONTRASEPSI
DENGAN KCKT

QUANTITATIVE ANALYSIS OF ETHUNILESTRADIOL AND DESOGESTREL IN CONTRACEPTION TABLETS BY HPLC
 
Sumarno
Bagian Kimia Farmasi, Fakultas Farmasi UGM

ABSTRAK

            Desogestrel  dan etunilestradiol adalah hormon stereoid yang berkasiat menghambat ovulsai, digunakan sebagai komponen dalam tablet Keluarga Berencana (KB). Komposisi kadar hormon desogestrol dan etunilestradiol dalam sediaan tablet kontrasepsi sangat besar perbedaannya (1:20) berat/berat, sehingga diperlukan cara analisis yang tepat teliti dan selektif. Penelitian ini untuk membandingkan tiga metode penetapan kadar desogestrol dan etunilestradiol dalam tablet dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), menggunakan komposisi dan jenis fase gerak yang berbeda.
           Sejumlah sediaan tablet yang dianalisis diuji keseragaman bobotnya, dan gerusan ditimbang teliti dengan bobot yang sesuai dengan kepekaan KCKT. Hormon disari dengan metanol, disring dan diencerkan sehingga didapat kadar tertentu. Larutan kemudian dianalisis dengan KCKT, menggunakan fase gerak yang berbeda-beda. Percobaan ini untuk mencari metode analisis yang peka, tepat, teliti dan efisien.
       Hasil menunjukkan bahwa ketiga metode KCKT mempunyai ketepatan, ketelitian dan kepekaan yang cukup baik dan tidak berbeda nyata, tetapi metode analisis menurut USP XXII (B), kurang efisien.

Kata kunci : desogestrel, etunilestradiol dan perbandingan metode analisis.

ABSTRACT

          Desogestrel and etunilestradiol are steroid hormons that inhibit the ovulation, which are used for birth control. The composition of those hormons is quite different (1:20 w/w), therefore require a dissent method of analysis with high in precision, accuracy, selectivity, sensitivity and efficient. The aim of the study is to select the best method of High Performance Liquid Chromatography (HPLC), that used different mobile phases.
        The results suggested that the accuracy and precision of the developed methods showed no significantly different but high efficiency was obtained.

Key Words: desogestrel, etunilestradiol, and comparative method.

----------------------------------------------------------------
 

Article 5. (number of pages: 7; original language: Indonesian)

PENGARUH MONOSAKARIDA DAN PENGGUNAAN SUMBER KARBON LOKAL PADA PEMBENTUKAN ERITROMISIN PADA FERMENTASI Streptomyces erythreus

THE INFLUENCE OF MONOSACCHARIDES AND LOCAL CARBON SOURCES ON ERYTHROMYCIN PRODUCTION FROM FERMENTATION OF Streptomyces erythreus

Haryanto Dh., Amir Musadad, Marlia Singgih dan Doddy Kustaryono
Lab Bioproses-Kimia Medisinal, Jurusan Farmasi  FMIPA, Institut Teknologi Bandung

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh beberapa monosakarida pada fermentasi eritromisin dan penggunaan sumber karbon lokal untuk produksi eritromisin dari Streptomyces erytrheus.
Dari percobaan diamati pengaruh d-glukosa terhadap pertumbuhan sel dan produksi eritromisin. Pengaruh konsentrasi glukosa terhadap peningkatan produksi eritromisin pada medium A tertinggi pada konsentrasi 10 mg/ml sedangkan analog glukosa (2 deoksi-d-glukosa) tidak mempengaruhi pertumbuhan tetapi menghambat pembentukan antibiotik.
Efek penghambatan pembentukan eritromisin terjadi bila ditambahkan pada fase tropofase atau ketika produksi antibiotik belum terbentuk. Tepung kacang lupin dapat digunakan sebagai sumber karbon yang baik untuk produksi eritromisin dengan hasil 8,56 mg/ml cairan fermentasi.

Kata kunci : Streptomyces erythreus, eritromisin, monosakarida, analog glukosa, tepung kacang lupin

ABSTRACT

The study was carried out to evaluate the influence of several monosaccharides and local carbon sources for erythromycin production by Streptomyces erytrheus. The influence of d-glucose was determined against the cell growth and the erythromycin production.
The results showed that at the level of glucose 10 mg/ml in Medium A gave a significant increase of erythromycin production, whereas the use of glucose analog (i.e. 2-deoxy-d-glucose) showed no significant effect on the cell growth but it did inhibit the antibiotic production.
The inhibition effect occurred when the glucose  analog was given on tropophase prior to the stationary phase of microbial growth, or when the antibiotic was not produced yet. The Lupin starch could be used as a good carbon source and it gave a good yield of erythromycin for approximately 8.56 mg/ml fermentation broth.

Key words : Streptomyces erythreus, erythromycin, monosaccarides, glucose analog, lupin starch

------------------------------------------------------
 

Article 6. (number of pages: 7; original language: Indonesian)

UJI TOKSISITAS KURKUMIN DAN 14 SENYAWA TURUNAN KURKUMIN DENGAN METODE KEMATIAN ANAK UDANG
Artemia salina  Leach

STUDIES ON THE TOXICITY OF CURCUMIN AND 14 CURCUMIN DERIVATIVES BY BRINE LETHALITY TEST OF Artemia salina Leach.

R. A. Oetari
Bagian Farmasetika Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada

ABSTRAK

     Telah dilaporkan bahwa kurkumin berefek antikanker. Dengan melakukan uji toksisitas 14 senyawa turunan kurkumin dengan metode kematian anak udang Artemia salina  Leach. akan mempercepat penentuan senyawa yang berpotensi sebagai antikanker.
 Uji toksisitas dilakukan dengan menggunakan metoda uji kematian anak udang atau Brine Shrimp Lethality Test (BST). Toksisitas senyawa dinyatakan dengan harga LD50.
      Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurkumin dan 13 senyawa turunannya mempunyai efek toksik. Senyawa yang paling toksik adalah Cur7 (3,5-C2H5-4-OH) (LD50 0,003 mcM), senyawa dengan ketoksikan sedang adalah Cur3 (kurkumin) (LD50 = 30 mcM). Senyawa  Cur11 (4-OCH3) (LD50 = 127.057 mcM) dinyatakan tidak toksik.

Kata-kunci : Uji Toksisitas; Kurkumin dan turunannya; Brine Shrimp Lethality Test (BST)

ABSTRACT

 Curcumin was reported to possess an anticarcinogenic activity. Brine Shrimp Lethality Test (BST) were then used to determine the toxicity of 14 curcumin analogues. The toxicity of the tested compounds were expressed as LD50 values.
 The results indicated that curcumin and 13 curcumin derivatives possess toxic effects. The most toxic compound is Cur7 (3,5-C2H5-4-OH) (LD50 0.003 mcM), and Cur3 (curcumin) (LD50 = 30 mcM) has medium toxicity, whereas, Cur11 (4-OCH3) (LD50 = 127,057 mcM) is considered not to have toxic effect.

Key-words : Toxicity studies, curcumin and its derivatives; Brine Shrimps Lethality Test (BST)

----------------------------------------------------------------
 

Article 7. (number of pages: 12; original language: Indonesian)

ASPERULOSID, SENYAWA IRIDOID Hedyotis corymbosa (L.)Lamk. (Oldenlandia corymbosa Linn.), SUKU RUBIACEAE

ASPERULOSIDE, AN IRIDOID SUBSTANCE IN HEDYOTIS CORYMBOSA (L.)LAMK. (OLDENLANDIA CORYMBOSA LINN.),  FAMILY RUBIACEAE

Sudarsono
Bagian Biologi Farmasi, Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta

ABSTRAK

Iridoid, alkaloid, triterpen, steroid, saponin banyak dibentuk dalam tumbuhan suku Rubiaceae. Golongan senyawa iridoid dapat digunakan untuk pencirian suatu tumbuhan suku Rubiaceae. Golongan senyawa iridoid dapat merupakan senyawa kunci dalam biosintesis golongan metabolit lain dalam suku Rubiaceae(Ipekosid, Emetin,Kinin,Ajmalin). Di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur terdapat 21 jenis Hedyotis. Beberapa di antaranya dipergunakan sebagai bahan obat (batuk, nyeri sendi, tumor, demam). Telah dilakukan penelitian terhadap kandungan alkaloid dan iridoid dalam Hedyotis corymbosa (L.) Lamk. (Oldenlandia corymbosa Linn.). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Freise pada tahun 1953, ditemukan adanya Kofein dalam Oldenlandia corymbosa Linn.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeteksi keberadaan Atropin dan Iridoid, serta menentukan struktur senyawa iridoid yang berhasil diisolasi. Ekstraksi dan isolasi dilakukan dengan Soxhlet, kromatografi kolom dan kromatografi lapisan tipis preparatif. Senyawa Iridoid diidentifikasi atas dasar data spektrofotometrik
 Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1. Herba Hedyotis corymbosa(L.) Lamk.,  tidak ditemukan adanya Kofein. 2. Herba Hedyotis corymbosa(L.)Lamk., ditemukan paling sedikit 5 senyawa Iridoid; satu di antaranya adalah Asperulosid.

Kata kunci: Senyawa iridoid (Asperulosid), Hedyotis corymbosa(L.)Lamk. (Oldenlandia corymbosa )Linn.

ABSTRACT

Iridoid, alkaloid, triterpen, steroid, saponin are chemical compounds usually exist in the family of Rubiaceae. Iridoids are  characteristic substances of plants in the family Rubiaceae. These substances could be used as a basic parameter for searching biogenetic  pathways. Many other types of constituents are biosynthetically produced  from iridoid (i.e. ipecoside, emetin, quinine, ajmaline). There are 21 species of Hedyotis  (Oldenlandia) in  Java. Some of the Hedyotis (Oldenlandia) could be used for medicinal agents in cough, rheumatism, high fever. The aim of this study is to investigate the  coffeine  and iridoids in Hedyotis corymbosa.
Extraction of iridoid has been done by Soxhlet apparatus, column chromatographic and preparative Thin Layer Chromatographic (TLC) methods. The iridoid was identified on the basis of spectrophotometric data.
Its concluded that  coffein could not be detected in Hedyotis corymbosa (L.)Lamk. (Oldenlandia corymbosa Linn.).   There are at least five iridoid substances which gave positive reaction to the mixture of CuSO4,  glacial acetic acid and sulfuric acid. One of them is identified as asperuloside.

Key words: Iridoid substance; asperuloside, Hedyotis corymbosa  (L.) Lamk (Oldenlandia  corymbosa  Linn.)

---------------------------------------------------------------------