Make your own free website on Tripod.com
Indonesian Journal of Pharmacy

Majalah Farmasi Indonesia (MFI) Volume 11 (2000), Number: 1

 
Article 1. (number of pages: 9; original language: Indonesian)
 
UJI ANTIKANKER EKSTRAK METANOL AKAR PHYLLANTHUS ACIDUS TERHADAP KANKER FIBROSARCOMA MENCIT HASIL INDUKSI BENZO(A)PIREN

THE ANTICANCER ACTIVITY TEST OF METHANOLIC EXTRAXT OF THE ROOT OF PHYLLANTHUS ACIDUS AGAINST  THE BENZO(A)PYRENE INDUCED FIBROSARCOMA IN  MICE

Sukardiman*, Anang Mudianto*, Soegeng Sukamto Martoprawiro** dan Sutarjadi*
*Laboratorium Botani Farmasi -Farmakognosi Fakultas Farmasi Unair
** Laboratorium Patologi Fakultas Kedokteran Unair

ABSTRAK

 Penggunaan obat alami sebagai antikanker telah banyak diteliti, maka akar cerme (Phyllanthus acidus) diteliti aktivitasnya terhadap fibrosarcoma mencit hasil induksi dengan benzo(a)piren. Ekstrak metanol  diperoleh  dengan maserasi serbuk akar cerme secara bertahap dengan menggunakan  pelarut heksan, kloroform dan metanol. Sediaan ekstrak uji diberikan secara intraneoplasma dan untuk evaluasi aktivitas antikanker digunakan parameter hambatan pertumbuhan kanker dan irisan histopatologi jaringan kanker. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol akar cerme pada dosis 300 mg / kg BB mampu menghambat pertumbuhan kanker serta terjadinya 40% nekrosis sel kanker fibrosracoma mencit hasil induksi benzo(a)piren .

Kata kunci : Antikanker, Phyllanthus acidus , Fibrosarcoma, Ekstrak Metanol

ABSTRACT

 The use of anticancer from natural drugs  has been frequently investigated, so the radix of cerme (Phyllanthus acidus) was scrutinized for its anticancer activity against the benzo(a)pyrene induced fibrosarcoma  in mice. The methanolic extract  was produced by maceration method consecutively with hexane, chloroform and methanol. The extract  was administered  intraneoplasmically. Anticancer activity were showed by the inhibition of thr growth and histopatology of cancerous tissue. The result showed  that methanolic extract of cerme radix at a dose of 300 mg / kg body weight could inhibit the growth of cancer cells and the caused 40% necrosis of cancer cells of the benzo(a)pyrene induced fibrosarcoma in mice.

Key words : Anticancer, Phyllanthus acidus , Fibrosarcoma, Methanolic Extract.

----------------------------------------------------------------
 

Article 2. (number of pages: 7; original language: Indonesian)

PENGARUH PEMBERIAN AIR PERASAN RIMPANG JAHE TERHADAP FARMAKOKINETIKA PROPRANOLOL PADA TIKUS

EFFECT OF THE JUICE OF GINGER RHIZOMES ON THE PHARMACOKINETICS OF PROPRANOLOL IN RATS

Arief Rahman Hakim dan Lukman Hakim
Lab. Farmakologi & Toksikologi, Fak. Farmasi UGM Yogyakarta

ABSTRAK

 Sering terdapat penggunaan obat tradisional bersama obat modern, sehingga perlu diketahui pengaruhnya.
 Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh pemberian perasan rimpang jahe (Zingiber officinale, Rosc.) terhadap farmakokinetika propranolol pada tikus. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan pengaruh air perasan rimpang jahe terhadap farmakokinetika propranolol.
 Sekelompok tikus jantan Sprague-Dawley (180-200 g) dibagi menjadi 4 kelompok secara acak. Kelompok I (kontrol) diberikan propranolol dosis tunggal secara oral (7,5 mg/kg BB). Kelompok II, III dan IV (perlakuan) berturut-turut diberikan perasan rimpang jahe dengan dosis 2, 4 dan 8 ml/kg BB (peroral) satu jam sebelum pemberian propranolol (7,5 mg/kg BB;po). Setelah pemberian propranolol, darah (0,2 ml) dicuplik dari vena ekor pada interval waktu tertentu untuk penetapan kadar propranolol utuh dalam plasma secara spektrofluorometri (eksitasi 291 nm dan emisi 338 nm).
 Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga konstanta kecepatan absorpsi (Ka) dan volume distribusi (Vdss) tanpa dan dengan perasan rimpang jahe relatif tetap (P>0,05). Namun demikian harga AUC0-inf dan Cmaks turun (21-25% dan 13-15%) dan waktu paro eliminasi (T1/2) propranolol diperpendek (8-17%) karena adanya perasan rimpang jahe (4 dan 8 ml/kg BB). Keadaan ini terjadi karena klirens total (CLt/F) obat tersebut bertambah besar secara nyata karena perasan rimpang jahe (25-33%).

Kata kunci : Rimpang jahe, Farmakokinetik, Propranolol, Tikus

ABSTRACT
 
 People often using traditional medicine combined with a modern drug, therefore the influence of traditional medicine to the behaviour of modern drug should be understood.
 The effect of the juice of ginger rhizome (Zingiber officinale, Rosc.) on the pharmacokinetics of propranolol in rats has been studied. This experiment would establish the effect of ginger rhizome on the pharmacokinetics of propranolol. In order to study this, male Sprague-Dawley rats (180-200 g) were divided randomly into four groups. To the first animal group (control) was given an oral single dose of propranolol (7.5 mg/kg) , while to the others were pre-treated with a single dose of the juice of ginger rhizome (2, 4 and 8 ml/kg; peroral) one hour prior to the administration of propranolol (7.5 mg/kg; peroral). Serial blood samples (0,2 ml) were withdrawn at various intervals via tail vein for fluorometric analysis of unchanged propranolol in plasma at exitation (291 nm) dan emission (338) maxima.
 The results showed that absorption rate constant (Ka) and Volume distribution (Vdss) of propranolol remained unaltered (P>0,05) after the ginger of rhizome juice administration. However, AUC0-inf and Cmax have decreased (21-25% and 13-15%) and the elimination half-lives (t1/2) of propranolol has shortened (8-17%) after pretreatment with the ginger rhizome juice (4 and 8 ml/kg). The alterations due to the increasing of total apparent clearance (CLt/F) for propranolol, about 25-33% from he initial value (P<0,05).

Key words : ginger rhizome, pharmacokinetics, propranolol, rat
 

--------------------------------------------------------------------
 

Article 3. (number of pages: 8 ; original language: Indonesian)
 
ISOLASI SENYAWA DARI KORTEKS AEGLE MARMELOS MENGGUNAKAN PELARUT PETROLEUM ETER

ISOLATION OF COMPOUNDS FROM AEGLE MARMELOS BARK USED PETROLEUM ETHER AS THE SOLVENT

Sugeng Riyanto1, Mohd.Aspollah Sukari2, Mawardi Rahmani2,
1Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
2Jabatan Kimia, Fakulti Sains & Pengajian alam sekitar,
Universiti Putra Malaysia, Selangor, Malaysia
 
ABSTRAK

Aegle marmelos Corr. mempunyai nama daerah (Jawa) “Maja”, adalah tanaman berbentuk pohon, termasuk familia Rutaceae. Tanaman ini digunakan sebagai obat secara tradisional.  Beberapa penelitian mengenai Aegle marmelos Corr telah dilaporkan, oleh karena itu sejumlah senyawa yang terkandung di dalamnya telah dikenal pasti, misalnya : alkaloid, turunan kumarin, turunan sinnamat dan lainnya.
Pada penelitian ini digunakan “Maja” yang tumbuh di Godean Yogyakarta. Serbuk kering kortek “Maja” diekstraksi dengan petroleum eter. Senyawa yang terkandung didalam ekstrak ini dipisahkan dengan metode kolom kromatografi vakum dan dilanjutkan dengan kolom kromatografi graviti. Senyawa yang diperoleh ditentukan struk-turnya dengan menafsirkan data spektroskopi UV, IR, Massa, RMI 1H  dan , RMI 13C.
Dengan cara pemisahan tersebut diatas dapat dipisahkan dua senyawa triterpen, yaitu lupenon dan lupeol. Selain itu juga diperoleh hablur berwarna putih, yakni campuran stigmasterol dan sitosterol.

Kata kunci : lupenon, lupeol, fitosterol, korteks, Aegle marmelos

ABSTRACT

Aegle marmelos Corr. is the tree with the local name Maja (Java), the member of Rutaceae family. The plant is used in traditional medicine treatment. Researches on Aegle marmelos Corr have been reported, so that the numbers of compounds have been known, such as alkaloid, cumarine derivatives, cinnamate derivatives etc.
The plant material was collected from Godean, Yogyakarta. The dry powder of “Maja” barks was extracted with petroleum ether. The obtained crude extract was subjected on the vacuum column and continued by gravity column chromatography. The isolated compounds were determined their molecular structure by interpreting the spectral data (UV, IR, Mass and 1H & 13C NMR).
Working procedure has afforded to isolate two triterpenes, lupenone and lupeol, also the white crystals have been obtained which consist of two compounds, these are stigmasterol and sitosterol.

Key words : lupenone, lupeol, phytosterol, bark, Aegle marmelos

--------------------------------------------------------------------

Article 4. (number of pages: 6; original language: Indonesian)

AKTIVITAS N-GLIKOSIDASE FRAKSI PROTEIN DAUN CARICA PAPAYA L. PADA rRNA YEAST

THE N-GLYCOSIDASE ACTIVITY   OF PROTEIN FRACTIONS FROM CARICA PAPAYA L. LEAVES   IN YEAST  rRNA .

Rumiyati , Sismindari  dan Sudjadi
Bagian Kimia Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada

ABSTRAK

Identifikasi protein sejenis Ribosome-inactivating protein (RIP)  dari tanaman Carica papaya L. telah dilakukan berdasarkan kemampuan ekstrak gubal daun dalam memotong DNA superkoil dan adanya aktivitas N-glikosidase pada rRNA yeast. Untuk dapat menentukan protein aktif yang bertanggungjawab terhadap aktivitas tersebut, maka perlu dilakukan pemurnian tahap awal dengan metode  fraksinasi menggunakan amonium sulfat.
Pada penelitian ini protein ekstrak gubal daun Carica papaya L. diendapkan secara bertingkat menggunakan amonium sulfat yakni dengan prosentase kejenuhan 20% sampai dengan 100%. Selanjutnya terhadap masing-masing fraksi protein hasil pengendapan bertingkat dilakukan uji aktivitas N-glikosidase pada rRNA yeast untuk menentukan fraksi protein yang aktif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi protein   80 % amonium sulfat mempunyai aktivitas  N-glikosidase pada rRNA yeast relatif paling tinggi diantara fraksi protein yang lain

Kata kunci:  Carica papaya L., fraksi protein, N-glikosidase

ABSTRACT

 Identification of ribosome-inactivating proteins (RIPs) from Carica papaya L. has been carried out  based on the ability of the leaves crude extract to cleave supercoiled double stranded DNA and the presence of N-glycosidase activity. To determine the active protein  responsible for this activity, the proteins were  purified by  fractionation with ammonium sulphate.
In the present work, the leaves crude extract was precipitated by ammonium sulphate with degree of saturation of 20%-100%. The activity of the  protein fractions were measured by the  N-glycosidase activity in  rRNA of yeast to determine the active protein.
The result indicated that the protein fractions  of 80% saturated of ammonium sulphate were the most active into   the N-glycosidase activity  in yeast rRNA among the other  protein fractions.

Key word: Carica papaya L., protein fractions,, N-glycosidase
 

----------------------------------------------------------------
 

Article 5. (number of pages: 8; original language: Indonesian)

STUDI PEMISAHAN SENYAWA HIDROKARBON POLIAROMATIK SECARA KROMATOGRAFI GAS KOLOM KAPILER

THE STUDY OF POLYAROMATIC HYDROCARBON SEPARATION  BY CAPILLARY GAS CHROMATOGAPHY

Endang Lukitaningsih dan Sri Noegrohati
Bag. Kimia Farmasi, Fak. Farmasi UGM

ABSTRAK

 Beberapa jenis senyawa hidrokarbon poliaromatik yang mempunyai struktur kimia dengan jumlah cincin aromatik yang sama ternyata memiliki sifat-sifat yang hampir sama, sehingga sulit untuk dipisahkan. Dalam penelitian ini akan dipelajari pemisahan campuran 8 jenis PAH yaitu fluorantena, pirena, benzo(a)antrasena, krisena, benzo(k)fluorantena, benzo(a)-pirena, perilena dan dibenzo(a,h)antrasena. Dari kedelapan senyawa tersebut yang mempunyai jumlah cincin sama adalah pirena/krisena dengan empat cincin, perilena / benzo (a) pirena / dibenzo (a,h) antrasena dengan lima cincin. Sampai saat ini, pemisahan senyawa semi volatil yang terbaik diperoleh apabila digunakan kromatografi gas kolom kapiler. Agar diperoleh pemisahan yang optimal perlu dilakukan studi pemisahan senyawa PAH tersebut dalam sistem kromatografi gas kolom kapiler.
 Hasil penelitian menunjukkan bahwa kromatografi gas kolom kapiler yang dilengkapi detektor FID dan kolom CP-sil 8 CB (25m X 0,23mm) dengan kondisi sebagai berikut : komposisi gas : nitrogen 28 ml/min, oksigen 230 ml/min, hidrogen 33 ml/min, make-up gas pada 5 skala; pemanasan kolom terprogram; temperatur injektor dan detektor 300?C; volume injeksi maksimal 2 ?L; ternyata memberikan efisiensi pemisahan sebesar 22747 - 167119, sedangkan kualitas pemisahan yang dinyatakan sebagai parameter resolusi harganya berkisar antara 2,782 - 18,418.
 Batas kepekaan dari kedelapan senyawa yang diuji sekitar 7,07 - 44,00ng. Apabila diaplikasikan pada penetapan PAH dalam contoh sedimen diperoleh harga recovery sebesar 77,38% - 88,92% dan harga koefisien variansi (CV) antara 8,12% - 12,08%. Analisis standard reference material 1647C memberikan harga recovery sebesar 95,16% - 102,10%. Dengan demikian metode ini dapat diaplikasikan untuk analisis kandungan PAH dalam contoh lingkungan yang banyak mengandung bahan pembawa seperti contoh sedimen dan tanah.

Kata kunci : hidrokarbon poliaromatik, GC-kapiler, efisiensi pemisahan

ABSTRACT

 The structural similarity of several polyaromatic hydrocarbons which in other term giving similar physico chemical characteristics, has caused separation problems. In the present study, the separation of eight PAHs (i.e. fluoranthene, pyrene, benz(a)anthracene, chrycene, benzo (k) fluoranthene, benzo(a)pyrene, perylene, and dibenz(a,h)anthracene) in capillary gas chromato-graphy are evaluated. Five of these PAHs having four rings (benz(a)anthracene, chrycene) and five rings (benzo(a)pyrene, perylene, and dibenz(a,h)anthracene). Up to now, the best separation of semivolatile compounds have been carried out using capillary gas chromatograph, therefore the separation of these PAHs have been carried out in capillary gas chromatography using CP-sil 8 CB (25m x 0,23mm id) column and equipped with FID detector.
 The condition of the capillary gas chromatography are as follows: carrier gas (nitrogen) flow 28 ml/min, fuel gas (hydrogen) 33 ml/min, oxidant gas (oxygen) 230 ml/min and make up gas 5th scale; gradient temperature programme of column; temperature detector and injector are 300 ?C; sample volume maximize is 2 ml; gave an efficiency 22747 - 167119 and resolution parameters 2,78 - 18,42.
 The limit of standard reference material 1647C detection was 7,07 - 44,00ng and  recovery value was 95,16% - 102,10%. The method was applied in analysis PAHs in sediment samples. The recovery obtained was 77,38% - 88,92%, therefore it was suitable for analysis PAHs in environmental samples with complex matrix such as soil and sediment.

Key words : polyaromatic hidrocarbons, capillary gas chromatograph, separation efficiency
 

------------------------------------------------------
 

Article 6. (number of pages: 6; original language: English)

GAS CHROMATOGRAPHIC-MASS SPECTROMETRIC ANALYSIS OF THE MAIN COMPONENT OF VOLATILE OIL ISOLATED FROM CURCUMA ZEDOARIA ROSC.

ANALISIS KROMATOGRAFI GAS-SPEKTROMETRI MASA DARI KOMPONEN UTAMA MINYAK MENGUAP YANG DIISOLASI DARI CURCUMA ZEDOARIA ROSC.

Retno S. Sudibyo
IUC-Biotechnology-GMU, Yogyakarta

ABSTRACT

Steam distillation of Curcuma zedoaria Rosc. rhizome (one of the kunir putih) produced a colorless volatile oil. Gas chromatographic analysis of this oil showed 13 different time-retention peaks. The 12th peak, the highest in intensity, had retention time of 22.262 seconds with area/height ratio of 8.316. Mass spectroscopic analysis of this peak resulted a molecular ion of m/z 212. The fragment ions of this molecular ion were m/z 194, 167, and a base peak of m/z 105. This molecular ion is the detetrahydro derivative of ar-turmerone.

Key-words: C. zedoaria, kunir putih, volatile oil, ar-turmerone derivative.

ABSTRAK

Distilasi-uap rizom Curcuma zedoaria Rosc. (salah satu dari kunir putih) menghasilkan minyak menguap yang tidak berwarna. Analisis kromatografi gas terhadap minyak ini menunjukkan 13 puncak waktu retensi yang berbeda. Puncak ke-12 mempunyai intensitas tertinggi, dengan waktu retensi 22,262 detik serta rasio area/tinggi pucak sebesar 8,316. Analisis spektroskopi-massa terhadap puncak ke-12 ini memberikan ion molekul m/z 212. Ion fragmen dari ion molekul tersebut adalah m/z 194, 167, dan suatu puncak-dasar m/z 105. Ion molekul tersebut adalah turunan detetrahidro dari ar-turmeron.

Kata-kunci: C. zedoaria, kunir putih, minyak menguap, turunan ar-turmeron.
 

----------------------------------------------------------------
 

Article 7. (number of pages: 12; original language: Indonesian)

SINTESIS TURUNAN N1-ALKIL TEOBROMIN DAN UJI AKTIVITASNYA SEBAGAI RELAKSAN OTOT POLOS TRAKEA

SYNTHESIS AND  STUDIES  ON  TRACHEAL SMOOTH MUSCLE  RELAXATION ACTIVITIES OF N1-ALKYL THEOBROMINE  DERIVATIVES

Hilda Ismail*, Moch. Samhoedi*, Umar A. Jenie* dan Sugiyanto**
*Laboratorium Kimia Medisinal Preparatif, ** Laboratorium Farmakologi-Toksikologi
Bagian Kimia Farmasi, Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta

ABSTRAK

 Senyawa-senyawa turunan xantin diketahui memiliki beberapa aktivitas farmakologis, diantaranya sebagai bronkodilator. Meskipun penggunaannya sebagai obat anti asma telah cukup dikenal, tetapi turunan xantin diketahui memiliki efek samping yang kurang menguntungkan yaitu penekanan pada jantung dan sistem syaraf pusat. Beberapa penelitian mengenai modifikasi struktur xantin guna mendapatkan turunan yang lebih poten dan selektif telah dilakukan. Berdasarkan penelitian terdahulu, diketahui bahwa subsitusi pada atom N1 xantin dapat meningkatkan aktivitas dan selektivtasnya sebagai bronkodilator.
 Teobromin (3,7,-dimetilxantin) adalah turunan xantin yang memiliki N1 tidak tersubstitus, dan dapat digunakan sebagai bahan pemula untuk mensintesis turunan xantin yang termodifikasi pada atom N1. Pada penelitian ini telah dilakukan sintesis dua turunan alkil teobromin, yaitu : N1-n-propil teobromin , dan  N1-n-butil teobromin.
 Sintesis dilakukan melalui reaksi alkilasi menggunakan n-propil bromida, dan n-butil bromida. Metoda sintesis dilakukan dengan merefluks teobromin dan alkil bromida dalam media pelarut basa selama 27-30 jam, dilanjutkan dengan rekristalisasi menggunakan kloroform. Hasil sintesis berupa kristal putih berbentuk jarum halus dengan rendemen sekitar 30 %. Uji kemurnian dilakukan dengan kromatografi lapis tipis, uji titik lebur, dan kromatografi gas. Penetapan struktur molekul hasil sintesis dilakukan dengan analisa spektrofotometer ultraviolet, spektrofotometer inframerah, spektrometer 1H-NMR, dan spektrometer massa (GC-MS). Hasil analisis elusidasi struktur memastikan bahwa hasil sintesis adalah N1-n-propil teobromin,  dan N1-n-butil teobromin.
  Uji aktivitas hayati dilakukan secara in vitro menggunakan preparat trakea marmot, dengan mengamati kemampuan senyawa menghilangkan kontraksi otot polos trakea yang disebabkan oleh histamin, dan dibandingkan dengan teofilin. Hasil uji hayati menunjukkan bahwa kedua turunan tebromin  memiliki aktivitas sebagai relaksan otot polos trakea lebih besar dibanding teofilin. Aktivitas N1-n-propil teobromin  lebih kecil dari pada N1-n-butil teobromin

Kata kunci : teobromin, N1-n-propil teobromin, N1-n-butil teobromin, relaksan trakea

ABSTRACT

 Xanthine derivatives are known as having some pharmacological activities. One of xanthine derivatives : theophylline, is the most effective and frequently used for the treatment of asthma, however, it has some adverse reactions  such as tachicardia and central nervous system stimulation. Studies on structure-activity relationship of xanthine  indicated  that substitution at the N1 position  increases the tracheal  muscle relaxation and  improves the bronchodilator selectivity.  Therefore,  in this research two xanthine derivatives with alkyl substituted at N1 have been synthesized. Then the effect of alkyl substitution on relaxation of tracheal smooth muscle were examined. Theobromine (3,7-dimethylxanthine) was choosen as the starting material for its unsubstituted N1 position. Two theobromine derivatives that had been synthesized  were : N1-n-propyl theobromine and N1-n-butyl theobromine.
 Syntheses process was carried out by refluxing theobromine respectively with  n-propyl bromide and n-butyl bromide in alkaline solution medium for 20-32 hours. The products were  purified by recrystalization using chloroform. The purity of the products was established by melting point,  TLC, and GC methods. Structure elucidations were determined using  physical methods, such as UV, IR, 1H-NMR , and mass spectrometric analyses. The rendement of alkyl theobromines was about 30 %.  Result of  the structure elucidation analysis, ensure that  the  product obtained are N1-n-propyl theobromine and  N1-n-butyl theobromine.
 Pharmacological activities of the alkyl  theobromines were  examined in vitro by studying the ability of the compounds to eliminate the tracheal smooth muscle contraction caused by histamine.  The activity of theobromine derivatives was compared to that of theophylline. The test showed that both N1-n-propyl theobromine and  N1-n-butyl theobromine were more potent as tracheal smooth muscle relaxants than theophylline. The N1-n-butyl theobromine  was more potent than N1-n-propyl theobro-mine.

Keywords : theobromine, N1-n-propyl theobromine, N1-n-butyl theobromine, relaxant

---------------------------------------------------------------------

Article 8. (number of pages: 8; original language: Indonesian)

PEMBUATAN GRANUL PUPUK  UREA DALAM BENTUK  LEPAS LAMBAT

PRODUCTION OF UREA GRANULE AS FERTILIZER  IN A SUSTAINED RELEASE FORM

Marchaban
Fak. Farmasi UGM, Yogyakarta

ABSTRAK

 Pupuk urea granul sangat mudah larut dalam air sehingga kemungkinan hilang terbawa air atau terdegradasi oleh oksigen maupun cahaya matahari sangat besar. Disamping itu penggunaan pupuk ini dalam bentuk tablet kadang menimbulkan masalah karena merubah pola pemakaian dari menaburkan menjadi menanam.
 Penelitian ini bertujuan untuk memperlambat proses pelepasan urea granul sehingga degradasinya juga dapat diperlambat. Urea granul yang mempunyai ukuran partikel sejenis disalut dengan bahan hidrokoloid (larutan karboksimetil selulosa dan larutan gom arab) serta bahan yang bersifat lipofil (vaselin kuning dan parafin padat) masing-masing sebanyak 2,5%, 5% dan 7,5%. Kemudian kepada pupuk urea granul baik yang tanpa disalut maupun yang disalut, dilakukan uji pelepasan dengan disolution tester menggunakan medium air sebanyak 500 ml dalam labu Poole. Tiap periode waktu 1, 2, 5, 10, 15 menit dilakukan pengambilan contoh sebanyak 1 ml. Contoh kemudian dianalisis dengan menggunakan pereaksi Berthelot.
 Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyalutan dengan bahan hidrokoloid sedikit memperlambat pelepasan urea, sedangkan penyalutan dengan bahan lipofil sangat memperlambat pelepasan urea tersebut. Makin tinggi kadar penyalut juga makin memperlambat pelepasan urea.

Kata kunci: urea, lepas lambat
 
ABSTRACT

 Urea granule as fertilizer is very soluble in water. Consequently, the possibility of urea solution to degrade in the present of oxygen and sunlight is also very high. Although the usage of urea in a tablet form is better than the granule form, however that is impractical due to the behavior changing of using urea from spreading to immersing.
 The aim of the study is to make the solubility of urea lower, so that its degradation is diminished. The urea granule with diameter of 12/14 mesh diameter was coated using different concentrations (2,5, 5,0 and 7,5%) of hydrocolloid coating materials such as carboxymethyl-cellulose and arabic gom as well as lipophylic coating materials such as liquid paraffin, yellow vaselin and solid paraffin.
 The dissolution tests were done to the urea fertilizer with or without coating by using dissolution tester with Poole flask as the apparatus and 500.0 ml of water at room temperature as the dissolution medium. One ml of the samples were taken after 1, 2, 5, 10 and 15 and then quantitatively analyzed by using Berthelot reagent.
 The results showed that hydrocolloid materials lowered the dissolution of urea, whereas lipophylic materials even lowered. The higher the concentration of coating materials the higher the diminution of the dissolution of urea was.

Keywords: urea, sustained release

----------------------------------------------------------------------
 

Article 9. (number of pages: 7; original language: Indonesian)

PENGARUH KURKUMINOID TERHADAP FARMAKOKINETIK SULFAMEZATHIN PADA TIKUS SPRAGUE-DAWLEY

EFFECT OF CURCUMINOIDS ON PHARMACOKINETICS OF SULFAMEZATHINE IN SPRAGUE-DAWLEY RATS

Lukman Hakim
Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada

ABSTRAK

      Kurkuminoid, sebagai isolat atau yang terdapat di dalam air perasan rimpang kunyit (Curcuma domestica) telah dilaporkan mampu mempengaruhi farmakokinetik obat model (propranolol dan salisilamid) pada hewan uji. Namun pengaruh kurkuminoid terhadap sulfamezatin belum pernah dilaporkan.
      Dua puluh empat ekor tikus Sprague-Dawley jantan dibagi secara acak menjadi 4 kelompok sama banyak. Kelompok I dan II : tikus disuntik sulfamezatin (50 mg/kg bb) masing-masing secara intravena dan intraperitoneal. Kepada tikus kelompok III dan IV, setelah masing-masing mendapat suspensi kurkuminoid 5 dan 10 mg/kg bb per oral, satu jam kemudian hewan uji disuntik sulfamezatin (50 mg/kg bb; intraperioneal). Kemudian pada interval waktu tertentu, darah (0,2-0,3 ml) diambil dari pembuluh vena lateralis ekor dan ditampung ke dalam wadah yang berisi heparin (10 ?l). Kadar sulfonamida utuh ditetapkan dengan metode Bratton-Marshall yang telah dimodifikasi. Data kadar sulfonamida di dalam darah terhadap waktu dianalisis menggunakan perangkat lunak STRIPE untuk mendapatkan nilai parameter obat tersebut pada tiap kelompok.
      Hasil penelitian menunjukkan bahwa farmakokinetik sulfamezatin setelah pemberian intravena dan intraperioneal bersifat bi-eksponensial. Kurkuminoid pada dosis 5 mg/kg bb ternyata mampu meningkatkan secara bermakna kecepatan absorpsi dan kadar maksimum sulfamezatin dalam darah (p<0,05), sedangkan pada dosis 10 mg/kg bb tidak. Hambatan kliren dan kenaikan AUC sulfamezatin juga terjadi pada dosis kurkuminoid tersebut (p<0,05). Pada dosis 10 mg/kg bb, kurkuminoid mampu menghambat kliren dan memperbesar AUC sulfamezatin secara bermakna (p<0,05), tetapi waktu-paro eliminasinya tidak (p>0,05). Volume sulfamezatin yang terdistribusi dalam keadaan tunak (Vdss) tidak banyak berubah karena kedua dosis kurkuminoid tersebut (p>0,05).

Kata kunci : farmakokinetik, disposisi, sulfamezatin, kurkuminoid

ABSTRACT

      Curcuminoids, either as an isolate or which are available in the aqueous juice of Curcuma domestica rhizome, have been reported to alter the pharmacokinetics of model drugs (propranolol and salicylamide) in animals. Their effects on a sulfonamide (sulfamezathine), however, have not yet been reported.
      Twenty four male Sprague-Dawley rats were divided randomly into four groups of six animals. To the rats in groups I and II were administered intravenous and intraperitoneal injections of sulfamezathine (50 mg/kg bw), respectively. The animals in groups III and IV obtained respective curcuminoids 5 and 10 mg/kg ww per orally, one hour prior to an injection of sulfamezathine (50 mg/kg bw) intraperitoneally. Blood samples (0,2-0,3 ml) were subsequently withdrawn from the tail vein at various time intervals and collected into heparinized tubes. The blood concentrations of the unchanged sulfonamide were determined by a modified Bratton-Marshall method. The concentration-time data were then used to calculate the pharmacokinetic parameter values of sulfamezathine using a STRIPE software.
      The results have shown that the pharmacokinetics of sulfamezathine following an intravenous or an intraperitoneal dose behaves a bi-exponential decline. Curcuminoids at 5 mg/kg bw were able to enchance significantly the absorption rate and peak concentration of sulfamezathine in blood (p<0,05), while those at 10 mg/kg ww were not. A decrease in clearance and an increase in AUC of the sulfonamide also occurred at the low dose of curcuminoids (p<0,05). At 10 mg/kg bw, curcuminoids also inhibited the clearance of  sulfamazathine which resulted in a significant increase of AUC (p<0,05), but not the elmination half-life of the drug. The steady-state volume in which sulfamezathine distributed was, however, only slightly altered by the two doses of curcuminoids (p>0,05).

Keywords : pharmacokinetics, disposition, sulfamezathine, curcuminoids
 

------------------------------------------------------------------