Make your own free website on Tripod.com

Indonesian Journal of Pharmacy

Majalah Farmasi Indonesia (MFI) Volume 9(1998), Number: 2

 

 

Article 1. (number of pages: 18; original language: english)

Development of New Erythromycin Derivatives using Hybrid Biosynthetic Technique
Pengembangan Turunan Eritromisin Baru Dengan Menggunakan Teknik Biosintetik Hibrida
Umar A. Jenie1), Retno S. Sudibyo1), and Arry Yanuar2),
1). Inter University Center for Biotechnology/Faculty of Pharmacy, Gadjah Mada University
2). Dept.of Pharmacy, Faculty of Mathematics & Sciences, University of Indonesia

ABSTRACT
In order to make erythromycin to be more stable in acid condition, and to avoid from decomposition into the non-active compounds (6,9-hemiketal-8,9-anhydroerythromycin and 6,9;9,12-spiroketal erythromycin), new erythromycin derivatives have been synthesized using a hybrid-biosynthetic technique. In this technique erythronolide B (the erythromycin aglycone) is combined in the fermentation process with forosamine, mycaminose and mycarose (the spiramycin glycones) to produce hybrid antibiotics.
Fermentation process to conduct a hybrid biosynthetic technique was carried out. In this process, cerulenin (20 m g/ml/day) was added to the culture of Streptomyces ambofaciens ATCC 15154 at the beginning of the fermentation in order to avoid the formation of spiramycin aglycone: platenolide. Erythronolide, which was isolated from Saccharopolyspora erythraea ATCC 11912, was then added to the culture at 72nd hours. Sampling was done every 24 hour and followed by a bioassay analysis using Micrococcus luteus ATCC 9341 and a TLC analysis. The bioassay analysis of sample, taken at 96th hours of the fermentation, showed an inhibition zone, while the control (without erythronolide) did not show the inhibition zone, and the TLC analysis gave two spots with Rf values of 0.3 and 0.25, respectively. Therefore, the inhibition zones of the bioassay analysis were assumed to be due to these two new-hybrid spots that were formed during the hybrid biosynthetic process.

Key-words: Hybrid biosynthetic technique, Erythronolide, Spiramycin, Cerulenin.

ABSTRAK
Dalam upaya membuat eritromisin menjadi lebih stabil dalam kondisi asam, dan untuk menghindari terjadinya dekomposisi menjadi senyawa yang tidak aktif (6,9-hemiketal-8,9-anhidroeritromisin dan 6,9,9,12-spiroketal eritromisin), turunan baru eritromisin telah disintesis dengan menggunakan teknik biosintetik hibrid. Pada teknik ini, eritronolid B (aglikon eritromisin) digabungkan dengan gula-gula forosamina, mikaminosa, dan mikarosa (glikon spiramisin) didalam proses fermentasi, untuk membentuk antibiotik hibrid.
Proses fermentasi dengan menggunakan teknik biosintetik hibrid telah dikerjakan. Dalam proses ini, serulenin (20mg/ml) ditambahkan ke dalam biakan Streptomyces ambofaciens ATCC 15154 sejak permulaan fermentasi, untuk menghindari terbentuknya aglikon spiramisin: platenolida. Kemudian, eritronolida yang diisolasi dari Saccharopolyspora erythraea ATCC 11912, ditambahkan ke dalam biakan S. ambofaciens ATCC 15154 tersebut pada jam ke-72. Pengambilan sampel dilakukan setiap 24 jam dan diikuti dengan analisis hayati dengan menggunakan Micrococcus luteus ATCC 9341sebagai bakteri uji, dan analisis KLT. Analisis hayati dari sampel yang diambil pada jam ke 96 menunjukkan adanya daerah hambatan, sedangkan kontrol (tanpa penambahan eritronolid) tidak menunjukkan adanya daerah hambatan; dan analisis KLT memberikan dua bercak dengan harga Rf masing-masing 0,3 dan 0,25. Dengan demikian daerah hambatan yang muncul dari analisis hayati diasumsikan berasal dari kedua bercak hibrid baru tersebut.

Kata-kunci: Teknik biosintetik hibrid, Eritronolid, Spiramisin, Serulenin,

-----------------------------------------------------

 

Article 2. (number of pages: 11; original language: indonesian)

Fluiditas Campuran Biner Aspirin dan Eksipien
The Flow Properties of a BinarY Mixture of Aspirin and Excipient
Achmad Fudholi
Lab. Teknologi Farmasi, Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta

 Abstrak
Fluiditas / sifat alir serbuk merupakan faktor kritik dalam produksi obat sediaan padat. Hal ini karena sifat alir serbuk berpengaruh pada peningkatan reprodusibilitas pengisian ruang kompresi pada pembuatan tablet dan kapsul , sehingga menyebabkan keseragaman bobot sediaan lebih baik, demikian pula efek farmakologinya.
Telah dilakukan penelitian sifat alir campuran biner aspirin - eksipien. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang sifat alir 24 campuran biner yang didapat dengan mencampurkan aspirin dan eksipien dengan konsentrasi yang berturutan dari 90, 70 dan 50%. Ada dua macam aspirin yang digunakan, yaitu aspirin serbuk dan aspirin kristal, yang kemudian dicampur dengan salah satu eksipien dari empat macam yang digunakan yaitu Avicel pH 102, Amilum jagung, StarX 1500 dan Elcema G250. Parameter fluiditas yang digunakan adalah harga Tap T(%).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua campuran biner aspirin serbuk mempunyai harga T yang tinggi, tetapi untuk campuran biner dengan aspirin kristal mempunyai sifat alir yang bagus, baik dalam berbagai konsentrasi ataupun jenis eksipien yang digunakan. Penambahan 0,1% Aerosil R972 akan lebih terlihat pengaruhnya pada campuran biner aspirin serbuk dibanding dengan campuran biner aspirin ktistal , dalam memperbaiki sifat alir campuran.

Kata kunci : Aspirin, eksipien, campuran biner, fluiditas serbuk

 Abstract
The flow properties of powders are of critical importance in the production of solid dosage forms. Some of the reasons for improving free flowing pharmaceutical powders include reproducible filling of tablet dies and capsules dosators which eventually improves weight uniformity and allows products to have more consistent pharmacological effects.
The flow properties of aspirin excipient binary mixture was studied. In order to get more informations on physical properties including free flowing characteristics of powders, 24 binary mixtures were prepared by mixing aspirin and excipient in different concentrations in the order of 90, 70 and 50%. Two forms of aspirin, powder and crystal, used in this study, were mixed with excipients such as Avicel pH 102, corn starch, StarX 1500, and Elcema G250. The flow properties of mixtures were described as Tapping value (T%).
The results showed that the binary mixtures of aspirin powder had a high T value, but the flow properties of aspirin crystal mixtures had a good result in different concentrations as well as excipients used. Addition of 0,1% Aerosil R972, was evenmore influencing the flow properties of aspirin powder than that of aspirin crystal binary mixtures.

Key word: Aspirin, excipients, binair mixture, flow properties.

----------------------------------------------------

 
Article 3. (number of pages: 8; original language: english)

 BIOAVAILABILITY STUDY OF ALLOPURINOL TABLETS USING PLASMA CONCENTRATION-TIME DATA OF ALLOPURINOL AND ITS MAIN METABOLITE OXYPURINOL
UJI KETERSEDIAAN HAYATI TABLET ALLOPURINOL MENGGUNAKAN DATA PLASMA ALLOPURINOL DAN METABOLIT UTAMA OKSIPURINOL
Yeyet C. SUMIRTAPURA1), Wibawati SULISTYO2), Herwanto SUHALIM2)
1) Department of Pharmacy, Bandung Institute of Technology, Bandung, Indonesia.
2) Sanbe Farma, Bandung, Indonesia.

 ABSTRACT
In order to assess the quality of a formulated allopurinol tablet and produced by a domestic company, a comparative bioavailability study of two commercial allopurinol tablets available in Indonesia (PRCM-300 and ZLRC-300) was carried out in ten healthy Indonesian volunteers in two-way crossover design. Plasma sample was used and unmetabolized compound and its main metabolite oxypurinol in plasma were analyzed using a HPLC method.
The result showed that plasma levels of the metabolite (peak levels varied from 6.13 to 9.98 m g/ml) were much greater than those of the parent compound (1.19 4.34 m g/ml) with a much longer elimination half-life (11.6 27.9 hours vs. 0.96 1.69 hours). Statistical analysis of the main bioavailability parameter (AUC) showed that two allopurinol tablets were bioequivalent, and the relative bioavailabilities calculated from the metabolite plasma concentration data (105.3 + 19.0 %) were in good agreement with those obtained from the allopurinol plasma concentration data (101.1 + 15.0 %).

Keywords: Allopurinol, bioavailability, oxypurinol metabolite, pharmacokinetics.

 ABSTRAK
Dalam rangka penilaian mutu sebuah sediaan tablet allopurinol yang dihasilkan oleh sebuah industri farmasi nasional, telah dilakukan uji ketersediaan hayati komparatif dua sediaan tablet allopurinol (PRCM-300 dan ZLRC-300) pada sukarelawan sehat Indonesia dengan cara silang lengkap. Sampel yang digunakan adalah plasma dan senyawa yang dianalisis adalah senyawa obat utuh allopurinol dan metabolit utamanya oksipurinol, yang ditentukan secara kromatografi cair kinerja tinggi.
Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kadar metabolit oksipurinol dalam plasma (kadar puncak bervariasi dari 6,13 sampai 9,98 m g/ml) jauh lebih besar dari kadar senyawa asal oksipurinol (1,19 4,34 m g/ml), dengan waktu paro yang juga jauh lebih besar ( 11,6 27,9 jam vs. 0,96 1,69 jam). Pengujian statistik parameter ketersedian hayati menunjukkan bahwa kedua sediaan yang diuji bioekivalent, dan ketersediaan hayati relatif yang dihitung berdasarkan data kadar metabolit oksipurinol (105,3% + 19,0%) sangat berdekatan dengan yang dihitung berdasarkan data kadar allopurinol (101,1% + 15,0%).

Kata kunci: allopurinol, ketersediaan hayati, metabolit oksipurinol, farmakokinetik.

------------------------------------------------------

 

Article 4. (number of pages: 8; original language: indonesian)

PENENTUAN GUGUS AKTIF TOKSIN-a DENGAN CARA ENZYME IMMUNO-ASSAY (EIA) MENGGUNAKAN TOKSIN-a 51-HORSERADISH PEROKSIDASE
DETERMINATION OF FUNCTIONAL GROUPS OF TOXIN-a BY ENZYME IMMUNO ASSAY (EIA) METHOD USING TOXIN-a 51-HORSERADISH PEROXIDASE
Nurlaila Z.
Pusat Penelitian Teknik Nuklir-BATAN, Bandung

 ABSTRAK
Telah dilakukan studi tentang penentuan gugus aktif toksin-a dengan cara enzyme immuno assay (EIA) menggunakan toksin-a 51-horseradish peroksidase. Toksin-a merupakan suatu protein yang terkandung dalam bisa ular dan bila masuk ke dalam tubuh akan terfiksasi pada reseptor asetilkolin sehingga mengakibatkan terjadinya kelumpuhan pada otot serta pernafasan. Gugus-gugus aktif yang berfungsi dalam fiksasi ini dapat diketahui dengan metode enzyme immuno assay berdasarkan reaksi kompetisi menggunakan toksin-a yang terkonjugasi dengan suatu enzim. Telah dilakukan penentuan gugus aktif toksin-a dengan cara enzyme immuno assay (EIA) menggunakan toksin-a 51-horseradish peroksidase (toksin-a 51-HRPO) sebagai perunut. Titer toksin-a 51-HRPO terhadap reseptor asetilkolin adalah sebesar 1 : 4400. Kondisi reaksi fiksasi optimal dicapai pada penggunaan 5 m g reseptor asetilkolin dengan waktu inkubasi selama 5 jam pada temperatur kamar.
Reaksi kompetisi toksin-a dan derivatnya dengan toksin-a 51-HRPO untuk terfiksasi pada reseptor asetilkolin menunjukkan bahwa gugus lisin-27 (K-27), lisin-47 (K-47), triptofan (W) dan gugus tirosin (Y) merupakan gugus-gugus aktif yang berperan dalam aktivitas biologis toksin-a .

Kata kunci : toksin-a , enzyme immuno assay (EIA), horseradish peroksidase (HRPO)

 ABSTRACT
Determination of functional groups of toxin-a by enzyme immuno assay (EIA) method using toxin-a 51-horseradish peroxidase was performed. Toxin-a is one of snake venom proteins which would bind specially to the acetylcholine receptor, causing muscle and breathing paralyze. The detection of functionally essential groups could be accomplish by competitive reaction using an enzyme immuno assay method with enzyme conjugated toxin-a . In this work, the determination of functional groups of toxin-a has been carried out by enzyme immuno assay (EIA) using toxin-a 51-horseradish peroxidase (toxin-a 51-HRPO) as a tracer. The titer of toxin-a 51-HRPO to acetylcholine receptor was 1 : 4400. Optimum condition of fixation was reached at 5 m g of acetylcholine receptor with 5 hours incubation time at room temperature. Competitive reaction of toxin-a and its derivatives with toxin-a 51-HRPO to acetylcholine receptor showed that lysin-27 (K-27), lysin-47 (K-47), tryptophan (W) and tyrosine (Y) are important groups to exert the biological activity of toxin-a .

Keywords : toxin-a , enzyme immuno assay (EIA), horseradish peroxidase.

------------------------------------------------------

 

 Article 5. (number of pages: 6; original language: english)

 A STUDY ON CAPACITY-LIMITED ELIMINATION OF PHENYTOIN IN BEAGLE DOGS+)
STUDI ELIMINASI KAPASITAS-TERBATAS FENITOIN PADA ANJING BEAGLE
Suwaldi Martodihardjo* dan Valentino J. Stella **
*Faculty of Pharmacy, Gadjah Mada University Yogyakarta
** Pharmaceutical Chemistry Department, The University of Kansas, USA

 ABSTRAK
Pada manusia, fenitoin memperlihatkan kinetika saturasi yang bergantung pada dosis. Anjing Beagle sering digunakan sebagai hewan percobaan. Karenanya, penelitian ini ingin mempelajari eliminasi yang dibatasi oleh kapasitas enzim untuk fenitoin pada anjing Beagle. Natrium fenitoin diinjeksikan ke hewan vena femoral selama 2-3 menit dengan dosis ekuivalen dengan 5,5, fenitoin/kg BB dan 10 mg fenitoin/kg BB. Konsentrasi fenitoin dalam plasma ditentukan dengan HPLC.
Hasil memperlihatkan bahwa fenitoin dengan dosis 10 mg/kg BB mempunyai eliminasi yang mengikuti kinetika Michaelis-Menten, sedangkan hal itu tidak terjadi pada fenitoin dengan dosis 5,5 mg/kg BB. Harga Km. Vm dan Vd,ss masing-masing adalah 6,66 1,38 m g/ml, 1,89 0,70 m g/ml/jam, dan 1,08 0,19 l/kg. Waktu paro eliminasi pada dosis 10 mg/kg BB dan 5,5, mg/kg BB masing-masing adalah 2,83 0,29 jam dan 2,28 0,5 jam.

 ABSTRACT
In human, phenytoin exhibits dose-dependent saturation kinetics within its therapeutic range. Beagle dogs are often used as experimental animals. Therefore, this study was aimed to investigate the capacity-limited elimination of phenytoin in Beagle dogs. Drugs were injected into the femoral vein of the dogs over a period of 2 - 3 minutes with dose of 5.5 mg/kg BW and of 10 mg/kg BW phenytoin dose equivalent as sodium phenytoin. Plasma phenytoin concentrations were determined by HPLC.
Results showed that elimination of phenytoin followed Michaelis-Menten kinetics at a dose of 10 mg/kg BW but it did not at a dose of 5.5 mg/kg BW. The values of Km. Vm and Vd,ss were 6.66 1.38 m g/ml, 1.38 0.70 m g/ml/hr, and 1.08 0.19 l/kg, respectively. The elimination half-lives were 2.93 0.29 hrs and 2.28 0.5 hrs at dose of 10 mg/kg BW and of 5.5 mg/kg BW, respectively.

Key words : phenytoin, capacity-limited elimination, Beagle dog, pharmacokinetics